Meluruskan Aqidah Sesuai Al Qur'an dan As Sunnah

Senin, 02 Agustus 2010

2 Macam Ikhlas


Ketahuilah, bahwa ikhlas itu menurut ulama-ulama kita ada dua macam :
  1. Ikhlas dalam amal
  2. Ikhlas dalam memohon pahala
Ikhlas dlm amal, ialah niyat taqorrub kpd Allah SWT dan niyat mengagungkan perintahNya dan niyat melaksanakan seruan Allah SWT. yg mendorong semuanya itu ialah ijtihad yg sungguh-sungguh.

Adapun lawannya dari ikhlas ialah kemunafikan; yakni taqorrub kpd selain Allah.
Imam Al Ghazali berkata: "Nifaq, yaitu i'tikad yg salah, yakni i'tikad orang-orang munafik kpd Allah". hal ini tidak termasuk kpd irodat.

Ikhlas dalam memohon pahala, yaitu bermaksud untuk mencari kemanfaatan akhirat dg amal yg baik.

Berkata Imam Al Ghazali: "Ikhlas dlm memohon ganjaran itu, yakni bahwa dg kebaikan itu seseorang menginginkan akan memperoleh pahala akhirat, ini tidak ditolak oleh Allah SWT. dan jika sekiranya tidak bisa mendapat kebaikan, lalu mereka mengharap dg amalnya itu mendapat manfaatnya di akhirat.

Kata orang-orang Hawariyyun (murid-muridnya Nabi Isa as) kpd Nabi Isa as."Bagaimanakah yg dimaksud dg amal-amal yg ikhlas?". jawab Nabi Isa as: "Yaitu apabila yg diamalkannya Lillahi ta'ala tanpa ingin dipuji oleh orang lain". dalam hal ini beliau bertujuan supaya meninggalkan riya ini. sebab riya inilah yg paling kuat utk merusak kpd Ikhlas.

Kata Imam Junaid: "Ikhlas itu membersihkan amal-amal kita daripada sesuatu yg dpt mengeruhkan amal", dan kata Imam Fudhoil bin Iyadh: "Ikhlas itu membiasakan diri utk muroqobah kpd Allah SWT dan pula kpd seluruh kepentingan pribadinya".
Menurut Imam Al Ghazali: "Inilah keterangan yg paling sempurna". Dalam masalah ini banyak kaul-kaul, tapi tidak ada gunanya kaul-kaul tersebut setelah jelas akan hakikat-hakikat ikhlas.

Sabda Rasulullah SAW sewaktu beliau ditanya tentang Ikhlas:
"Ikhlas itu ialah yang kita tekadkan didalam hati itu hanya kepada Allah semata, kemudian istiqomah sebagaimana yg telah diperintahkanNya".

Janganlah menyembah kepada nafsu dan jangan menyembah kepada diri sendiri.

dikutip dari Kitab Minhajul Abidin karangan Imam Al Ghazali
diterjemahkan oleh KH. Abdullah bin Nuh.

Tidak ada komentar: