Rabu, 19 November 2008

Tuntunan Shalat seri 3 (bagian 2)



Mandi-Mandi Sunah


Disunahkan mandi pada beberapa peristiwa dan keadaan, yaitu :

1.Mandi hari Jum'at.
Mandi jum'at ini hukumnya tidak sekedar sunah saja, tetapi sunah muakad, dan makruh hukumnya bagi siapa yang meninggalkannya. Dasarnya adalah apa yang sudah diperintahkan oleh Nabi SAW.
"Mandi Jum'at itu wajib bagi setiap orang yang telah bermimpi (baligh), menggosok gigi dan supaya memakai wangi-wangian yang dimampuinya." (Bukhari)

Sedangkan dalil yang mensunahkan dari perintah wajib diatas adalah hadis :
"Barang siapa yang berwudlu dan menyempurnakan wudlunya, kemudian menghadiri sholat jum'at, dan ia berdiam diri mendengarkan, diampunilah kesalahannya dari lalu sampai jum'at ini."(Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa yang wajib pokok dalam shalat jum'at itu adalah ketiga hal diatas, dan tidak disebutkan wajibnya mandi, maka dari itu para ulama menganggap hadis ini sebagai takhsis dari kewajiban jum'at.

2. Mandi ketika akan keluar untuk sholat Ied, baik Iedul Adha maupun Iedul Fitri.

3. Mandi setelah sadar dari pingsan.
Diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim, bahwa ketika Rasulullah saw sakit yang sangat yang mengakibatkan kematiannya, beliau sempat pingsan beberapa saat lamanya. Kemudian setelah siuman, beliau mandi.

4. Mandi ketika akan melakukan Haji dan Umrah.
Telah diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit dengan perawi dari Tirmidzi, bahwa ketika beliau hendak ihram dan mau memulai talbiyah, beliau menanggalkan pakaian luarnya dan mandi terlebih dahulu.

5. Ketika memasuki kota Mekah
Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra, dari jalan Bukhari dan Muslim

6. Mandi bagi yang mempunyai istri lebih dari satu (poligami) jika akan menggauli istrinya yang lain.

Dari Abu Rafi'ra. berkata :
"Pada suatu hari Rasulullah saw pernah menggilir istri-istrinya, beliau mandi ketika bersama istri yang satu dan mandi lagi ketika bersama istri yang lain." Lalu Abu Rafi' bertanya : "Ya Rasulullah, tidakkah engkau cukup mandi sekali saja ?" Rasul menjawab : "Cara ini lebih baik, lebih bersih dan lebih suci." (Abu Daud)

7. Mandi setelah memandikan mayat

sumber bacaan : Berbagai sumber

baca seluruh artikel..

Minggu, 02 November 2008

Etika Bertetangga

Tetangga adalah orang pertama yang akan memberikan pertolongan pertama jika terjadi sesuatu yang menimpa kita. Untuk itu disinilah pentingnya kita hidup rukun bertetangga.
Di sisi lain seorang muslim meyakini bahwa tetangga mempunyai hak-hak dan etika atas dirinya.

Firman Allah yang berbunyi:
"................... Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri". (QS. An Nisa : 36)

Bagaimana cara supaya kita selalu rukun dan saling berbagi baik suka maupun duka serta menjadi tetangga yang baik? Untuk itu Islam mengajarkan cara-cara hidup bertetangga yang baik.

1. Tidak menyakiti dengan ucapan, atau perbuatan.

2. Berkata dengan tutur kata yang sopan dan menjaga bagaimana agar tetangga tidak tersinggung oleh ucapan-ucapan kita.
Rasulullah bersabda :
"Barang siapa beriman kepada Allah, dan hari Akhir, maka ia jangan menyakiti tetangganya". (Muttafaq Alaih).

3. Memberi rasa aman kepada tetangganya.
Sikap kita pada tetangga jangan sampai menimbulkan hal-hal yang membahayakan keselamatan tetangga dalam bentuk apapun.

Sahabat pernah bertanya "Siapa orang yang tidak beriman wahai Rasulullah? Beliau bersabda ; "Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya".(Muttafaq Alaih).

4. Bersikap sosial dengan tetangga
Rasulullah bersabda :
"Barang siapa beriman kepada Allah, dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya". (HR Bukhori).

Ada baiknya kita berbuat balk pada tetangga tanpa memandang dari segi sosial dengan membantu jika kita dibutuhkan, menjenguknya jika tetangga ada yang sakit, mengucap selamat jika bahagia dan menghiburnya jika tetangga mengalami musibah.
Sikap dermawan, saling berbagi dengan tetangga dan tidak terlalu pelit, misalnya kita punya sesuatu sisihkan agar tetangga ikut merasakan.

Sabda Rasulullah SAW kepada Abu Dzar:
"Hai Abu Dzar, jika engkau memasak kuah, maka perbanyaklah airnya, kemudian berikan kepada tetanggamu". (HR Bukhari)

sumber bacaan : Qonsis

baca seluruh artikel..

Mencari Keridlaan Allah seri 4

TAKWA
BENTENG MORAL YANG PALING TANGGUH

"Hai, orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali Imran : 102)

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al Hujurat : 13)

Di dalam Al-Quran banyak kita temui ayat-ayat yang menyuruh agar kita bertakwa kepada Allah swt., di antaranya ialah ayat yang tersebut di atas. Orang-orang yang bertakwa itu disebut orang muttaqin. Mereka adalah orang yang paling mulia di sisi Allah swt.
Semua kita menginginkan agar kita termasuk orang yang mulia di sisi Allah swt. itu, tetapi amat sayang belum semua kita mengetahui atau menghayati apa yang dimaksud dengan bertakwa itu, walaupun perkataan itu telah menjadi ucapan sehari-hari secara populer.

Sebetulnya Allah swt. dan Rasul-Nya, Muhammad saw., telah menjelaskan secara terinci apa yang dimaksud dengan takwa, dan bagaimana amal perbuatan serta sikap dan sifat orang-orang muttaqin itu.

Untuk memudahkan bagi kita memahami dan menghayati inti sari bertakwa itu, marilah kita segarkan kembali dalam pikiran kita dialog yang terjadi antara Umar bin Khaththab dengan Ubai bin Ka'ab yang kedua-duanya adalah sahabat tercinta Nabi Muhammad saw.

Pada satu waktu Umar bin Khaththab bertanya kepada Ubai bin Ka'b:
Umar : Apakah menurut pendapat Anda yang dimaksud dengan bertakwa itu?
Ubai : Pernahkah Anda bepergian mendaki gunung batu yang curam, jalannya licin, tidak ada rumput-rumput atau akar-akar tempat berpegang? Sekiranya kaki Anda tergelincir, Anda akan jatuh ke jurang yang dalam dan mati hancur lebur di tempat itu?
Umar : Sudah pernah.
Ubai Baiklah. Bagaimana sikap Anda di waktu mendaki gunung batu yang berbahaya itu?
Umar : Tentu saya sangat hati-hati.
Ubai : Nah, itulah dia bertakwa. Yaitu berhati-hati dalam segala hal.
Umar : Cobalah jelaskan ruang lingkup berhati-hati itu!
Ubai : Ada tiga hal yang harus dijaga, dipelihara dengan hati-hati sekali, yaitu:
  1. Berhati-hati menjaga diri kita dari melakukan perbuatan-perbuatan yang menyebabkan murkanya Allah swt., seperti syirik, kafir, meninggalkan ibadah, berzinah, sumpah palsu, durhaka kepada orang tua, korupsi, dan sebagainya.
  2. Berhati-hati menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang akan merusak atau membinasakan diri kita sendiri, seperti meminum minuman keras, berjudi, boros, membuang-buang waktu, tidak mempunyai mata penghidupan dan ilmu pengetahuan, tidak berbudi, dan sebagainya.
  3. Berhati-hati menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang akan merusak, merugikan, atau membinasakan orang lain, seperti menipu, mencuri, merampok, memfitnah, menganiaya, berkhianat, adu domba, membohong, mengganggu ketenteraman rumah tangga orang lain dan sebagainya.
Umar: Saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas penjelasan Anda, serta berdoa dengan sepenuh hati, semoga Allah swt. akan selalu melimpahkan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita, agar kita termasuk dalam golongan hamba-Nya yang muttaqin itu, amin.

Demikianlah ungkapan yang amat mudah bagi kita memahami dan menghayati hakikat bertakwa dan insya Allah kita akan berhasil mendapatkannya jika kita bersedia mencari dan mengusahakannya secara bersungguhsungguh.

Selanjutnya marilah kita ikut pengarahan dan petunjuk secara tertulis yang diberikan oleh Khalifah Umar bin Khaththab sebagai panglima tertinggi kepada Panglima Sa'ad bin Abi Waqasy dalam menghadapi perjuangan fisik bersenjata dengan musuh-musuhnya sebagai berikut:

Bismillaahirrahnzaanirraham.
Amma ba'du.
Bersama ini aku perintahkan kepada engkau beserta perajurit yang engkau pimpin, supaya selalu bertakwa kepada Allah pada setiap keadaan dan peristiwa, karena takwa kepada Allah adalah benteng moral yang paling tangguh terhadap musuh, dan semangat yang paling kuat dalam menghadapi perang.

Aku perintahkan supaya engkau bersama anak buahmu senantiasa berusaha keras menjauhi dosa-dosa dan maksiat, karena sesungguhnya dosa satu pasukan akan menimbulkan ketakutan di hati di waktu menghadapi musuh. Dan sesungguhnya orang muslim ditolong Tuhan karena kedurhakaan musuh mereka kepada Allah. Kalau bukan demikian, sebenarnya kita sudah tidak berdaya menghadapi mereka karena jumlah mereka jauh lebih banyak dan alat persenjataan mereka jauh lebih sempurna. Kalau kita samai pula mereka dengan mendurhakai Tuhan, mereka akan lebih kuat dari kita, dan kalau kita ditolong Allah menghadapi mereka dengan keutamaan kita, tidaklah mereka dapat kita kalahkan dengan kekuatan lahir kita.
Ketahuilah! Adalah kewajibanmu menjaga ketentuan-ketentuan Allah dalam melakukan penyeranganmu, karena musuh-musuhmu tahu apa yang kamu lakukan. Dan majulah terhadap mereka, jangan sekali-kali kamu berbuat salah, mendurhakai Tuhan, sedangkan kamu berjuang pada jalan-Nya. Janganlah sekali-kali kamu berkata: "Musuh-musuh kita lebih jahat, dan mereka tidak akan sanggup mengalahkan kita". Berapa banyak bangsa yang didominasi oleh orang yang lebih jahat dari mereka, sebagaimana Bani Israil setelah mereka melakukan kedurhakaan kepada Allah, dipukul hancur oleh kafir Majusi, maka mereka kalah dan menderita. Dan janji Allah itu terujud.

Berdoalah senantiasa kepada Allah agar dirimu menjadi kuat, dan mohonlah pertolongan kepada Yang Mahakuasa itu supaya kamu menang menghadapi musuhmusuhmu. Dan mintalah kepada Allah semuanya itu, untuk kami dan untuk kamu.
Bersopan santunlah kepada setiap muslim dalam perjuangan mereka, jangan kamu berati mereka dengan urusan-urusan yangharus mereka patuhi. Jangan engkau halangi mereka dari tempat yang mereka sukai, sehingga mereka berhadapan dengan musuhmusuh mereka. Satu perjalanan tidak akan mengurangi kekuatan mereka, sampai mereka bertemu dengan musuh di tempatnya.

Jauhilah pembunuhan dan perusakan dimana-mana. Dan tegakkanlah sembahyang berjamaah bersama pasukanmu, siangmalam, hingga ada ketenangan jiwa, dan istirahatlah seketika guna menghidupkan semangat mereka, ketika senjata dan alatalat mereka dapat mereka istirahatkan pula.
Jauhkanlah tempat-tempat mereka dari kampung-kampung orang yang telah membuat perdamaian dan yang meminta perlindungan. Usahakan supaya kampung mereka jangan dimasuki oleh anak-anak buahmu selain orang yang telah engkau yakini keteguhan agamanya, dan jangan pula seorang pun dari penduduknya memasukkan apa pun. Sesungguhnya mereka mempunyai hak kehormatan dan hak perlindungan. Kamu dicobai untuk menunaikannya sebaik-baiknya, sebagai pula mereka diuji untuk sabar atas hal-hal yang mereka alami akibat itu. Apabila mereka telah sadar menerimanya, maka perintahlah mereka dengan baik, dan jangan engkau minta tolong kepada kaum yang sedang berperang untuk menzalimi orang-orang yang sudah berdamai.

Dan bila engkau telah menginjakkan kaki di daerah musuh, hendaklah engkau berhati-hati. Janganlah dipandang enteng persoalan yang tengah engkau hadapi dengan mereka. Kemudian bentuklah satu badan yang terdiri atas orang-orang ahli yang mengerti persoalan, yang dapat memberikan advis dan nasihat yang jujur kepadamu.
Ketahuilah bahwa pelopor-pelopor yang bohong dan data-data yang tidak benar tidak akan ada gunanya, bahkan kerap membahayakan, walaupun mereka kadangkala memperlihatkan kebenarannya. Tipu muslihat senantiasa mengintai kelalaianmu, yang siap untuk mencelakakan engkau beserta pengikutmu.

Camkanlah semuanya ini sebaik-baiknya, kemudian laksanakanlah dengan penuh keikhlasan serta mengharapkan ridlaAllah dan pertolongan-Nya.

Dari pengarahan yang disampaikan oleh Panglima Tertinggi Umar bin Khaththab ini, nampak oleh kita betapa waspada dan berhati-hatinya dia dalam melaksanakan tugas kewajibannya sebagai khalifah dan panglima tertinggi karena dengan sebab kesalahan, kealpaan orang bawahannya, dia sendiri akan ikut mempertanggungjawabkannya kepada Allah swt. di akhirat kelak.

Alangkah berbahagianya kita bangsa Indonesia sekiranya sifat bertakwa itu dimiliki oleh semua lapisan masyarakat, dari rakyat sampai kepada pemerintah, dari yang awam sampai kepada sarjana, dari yang miskin sampai kepada yang paling kaya. Negara akan menjadi aman dan makmur, kesenangan dan kebahagiaan akan merata sampai ke pelosok-pelosok, kemiskinan dan kemelaratan akan hilang lenyap, gemah ripah loh jinawi insya Allah akan tercapai dalam jangka waktu yang tidak terlalu jauh, sesuai dengan firman Allah swt.:

"Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami (Allah) akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan oleh perbuatannya sendiri." (QS Al A'raf : 96)

sumber bacaan : Mencari Keridlaan Allah, HZ. Sulaiman

baca seluruh artikel..

Jumat, 31 Oktober 2008

Etika Bertetangga



Tetangga adalah orang pertama yang akan memberikan pertolongan pertama jika terjadi sesuatu yang menimpa kita. Untuk itu disinilah pentingnya kita hidup rukun bertetangga.
Di sisi lain seorang muslim meyakini bahwa tetangga mempunyai hak-hak dan etika atas dirinya.

Firman Allah yang berbunyi:
"................... Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri". (QS. An Nisa : 36)

Bagaimana cara supaya kita selalu rukun dan saling berbagi baik suka maupun duka serta menjadi tetangga yang baik?
Untuk itu Islam mengajarkan cara-cara kita hidup bertetangga yang baik.

1. Tidak menyakiti dengan ucapan, atau perbuatan.

2. Berkata dengan tutur kata yang sopan dan menjaga bagaimana agar tetangga tidak tersinggung oleh ucapan-ucapan kita.
Rasulullah bersabda :
"Barang siapa beriman kepada Allah, dan hari Akhir, maka ia jangan menyakiti tetangganya". (Muttafaq Alaih).

3. Memberi rasa aman kepada tetangganya.
Sikap kita pada tetangga jangan sampai menimbulkan hal-hal yang membahayakan keselamatan tetangga dalam bentuk apapun.
Sahabat pernah bertanya "Siapa orang yang tidak beriman wahai Rasulullah? Beliau bersabda ; "Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya".(Muttafaq Alaih).

4. Bersikap sosial dengan tetangga
Rasulullah bersabda :
"Barang siapa beriman kepada Allah, dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya". (HR Bukhori).

Ada baiknya kita berbuat balk pada tetangga tanpa memandang dari segi sosial dengan membantu jika kita dibutuhkan, menjenguknya jika tetangga ada yang sakit, mengucap selamat jika bahagia dan menghiburnya jika tetangga mengalami musibah.
Sikap dermawan, saling berbagi dengan tetangga dan tidak terlalu pelit, misalnya kita punya sesuatu sisihkan agar tetangga ikut merasakan.

Sabda Rasulullah SAW kepada Abu Dzar:
"Hai Abu Dzar, jika engkau memasak kuah, maka perbanyaklah airnya, kemudian berikan kepada tetanggamu". (HR Bukhari)

sumber bacaan : Qonsis

baca seluruh artikel..

Tuntunan Shalat seri 3 (bagian 1)

Pengantar

Dalam Tuntunan Shalat seri 3 ini dibahas mengenai Mandi Junub/wajib, Mandi Sunah, Wudhu, dan Tayammum. Adapun perinciannya adalah :
Tuntunan Shalat seri 3 (bagian 1) : Mandi Junub/wajib
Tuntunan Shalat seri 3 (bagian 2) : Mandi Sunnah
Tuntunan Shalat seri 3 (bagian 3) : Wudhu
Tuntunan Shalat seri 3 (bagian 4) : Tayammum


MANDI JUNUB/WAJIB

Mandi junub/wajib adalah membasahi seluruh anggota tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan air muthlaq (air suci dan menyucikan) untuk menghilangkan hadas besar.

Hukum mandi junub/wajib
Mandi wajib ataupun mandi junub adalah diwajibkan ke atas orang Muslim untuk membersihkan dirinya daripada hadas besar.
Bila tidak mandi junub sementara dalam keadaan junub, maka sholat menjadi tidak sah.

Sebab mandi junub/wajib :
  1. Melakukan persetubuhan (bertemu dua khitan) yaitu zakar dimasukkan ke dalam faraj walaupun tidak keluar air mani.
  2. Keluar air mani, baik karena bermimpi atau sebab lain (masturbasi/onani)
  3. Mati dalam keadaan muslim dan bukan mati sahid
  4. Masuk Islam orang yang sebelumnya kafir
  5. Berhentinya haid
  6. Berhentinya Nifas
  7. Melahirkan anak (Wiladah)

Rukun Mandi Junub/Wajib
  1. Niat (dalam hati)
  2. Menghilangkan kotoran dan najis dari badan
  3. Membasuh dan meratakan air ke seluruh tubuh

Sunnah Mandi Junub/Wajib
  1. Membaca "Basmalah" pada permulaan mandi
  2. Membasuh kedua telapak tangan sampai pergelangan 3 kali
  3. Berwudhu sebelum mandi
  4. Membasuh badan sampai tiga kali
  5. Menghadap kiblat sewaktu mandi
  6. Mendahulukan yang kanan daripada yang kiri
  7. Membaca doa sebagaimana membaca doa sesudah berwudhu
  8. Bagi wanita yang mandi disebabkan haid dan nifas, disunatkan menggunakan perfume selepas mandi


Cara Mandi Junub/Wajib

Mandi wajib harus dikerjakan dengan menggunakan air mutlak yaitu air yang suci lagi menyucikan, dan tidak sah jika menggunakan air yang bukannya air mutlak.
  • Berniat dan membaca Basmallah
  • Membasuh kedua telapak tangan
  • Membasuh kemaluan dengan tangan kiri
  • Berwudhu sebagaimana berwudhu untuk shalat
  • Membasuh rambut dan meratakannya dengan cara memasukan jari-jemari ke pangkal rambut
  • Mengguyur air ke seluruh tubuh sampai merata dimulai dari kepala
  • Membasuh kaki

Perkara-Perkara yang Berkaitan

Melewatkan Mandi Wajib
Mandi wajib boleh ditunda dari malam sehingga siang. Dengan itu, pasangan yang berjimak boleh melewatkan untuk mandi wajib sehingga pagi dan mengerjakan mandi wajib sejurus mengerjakan solat subuh, tetapi pasangan itu disunatkan berwudhu sebelum tidur jika ingin melewatkan mandi wajib mereka hingga ke pagi.
Orang yang melewatkan mandi wajibnya juga tidak membatalkan puasa dan boleh terus berpuasa, dan puasanya tetap sah selagi mana dia tidak membatalkan puasanya.

Ragu-ragu
Jika seorang yang mengerjakan solat tetapi ragu-ragu apakah sama ada ia sudah mandi wajib atau belum, maka seluruh solat yang telah dikerjakannya (selama itu) adalah sah, dan untuk solat-solat berikutnya ia harus mandi wajib dahulu.

Tiada Air (Atau Mudarat Tidak Boleh Terkena Air)
Jika terdapat sebab untuk melakukan tayammum, seperti ketiadaan air, atau tidak dapat menggunakannya akibat sakit, maka tayammum akan menggantikan wudhu dan mandi wajib. Maka seseorang yang junub hendaklah bertayammum lalu bersolat, kemudian apabila ada air maka hendaklah mandi menghilangkan janabahnya tersebut.

Meratakan Air Hingga ke Seluruh Badan
Seluruh badan harus rata mendapatkan air, baik kulit maupun rambut dan bulu. Baik akarnya atau pun yang terjuntai. Semua penghalang wajib dilepas dan dihapus, seperti cat, lem, pewarna kuku atau pewarna rambut bila bersifat menghalangi masuknya air.
Bagi wanita, ketika mandi junub dibolehkan tidak melepaskan ikatan rambutnya (sanggul), cukup diguyur saja. Akan tetapi, ketika mandi setelah haidh, wanita diwajibkan melepaskan ikatan rambutnya.
Sedangkan pacar kuku dan tato, tidak bersifat menghalangi sampainya air ke kulit, sehingga tetap sah mandinya, lepas dari masalah haramnya membuat tato.

Najis Di Badan
Jika ada najis dibadan, najis itu boleh dibasuh serentak dgn mandi wajib yaitu membasuh najis dengan mandi wajib itu boleh disekalikan (Imam Nawawi) untuk memenuhi rukun kedua mandi wajib.

Berlebihan dalam menggunaan air
Berlebihan dalam menggunakan air untuk mandi junub/wajib, hukumnya adalah makruh, mengingat Rasulullah saw tidak pernah mengguyur lebih dari 3 kali guyuran.

Wudhu sesudah mandi junub/wajib
Seseorang yang telah mengerjakan mandi wajib tidak perlu berwudhu lagi untuk mengerjakan solat dengan syarat dia tidak melakukan perkara yang membatalkan wudhu selepas dia mengerjakan mandi wajib.

Sumber bacaan : Berbagai sumber

baca seluruh artikel..
Design by Dzelque Blogger Templates 2008

AL ISLAM - Design by Dzelque Blogger Templates 2008