Meluruskan Aqidah Sesuai Al Qur'an dan As Sunnah

Selasa, 02 Februari 2010

Mengenal Dasar-dasar Keimanan

Alhamdulillah wa sholatu wa salaam ‘ala Nabiyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in.

Salah satu realita yang cukup memprihatinkan pada saat sekarang ini, adalah kondisi kaum muslimin yang mulai tidak peduli terhadap ajaran agama Islam, terutama terhadap perkara aqidah. Sebagian besar kaum muslimin saat ini lebih disibukkan dengan usaha-usaha perbaikan dan pembangunan fisik, peningkatan ekonomi umat, kesejahteraan kaum muslimin dan lain sebagainya, yang pada hakikatnya seluruh jerih payah tersebut tidak membawa banyak perubahan bagi kaum muslimin.

Mereka lupa bahwa perkara yang harus dibenahi pertama kali dari umat ini adalah perkara aqidah dan pembenaran iman. Bukankah perkara yang pertama kali diserukan oleh para rasul Allah kepada umatnya, termasuk Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perkara aqidah?

Allah ta’ala berfirman,
“Dan sungguh Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut”. (QS. An Nahl : 36)

Setiap rasul tidaklah diutus oleh Allah ta’ala melainkan dalam rangka pembenaran dan pelurusan aqidah umat. Setiap kitab tidaklah diturunkan oleh Allah ta’ala melainkan dalam rangka menjelaskan aqidah yang selamat dan menjelaskan segala perkara yang dapat membatalkan atau menguranginya. Dan setiap manusia tidaklah diciptakan melainkan karena tujuan ini. Inilah hakikat kunci kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat. (Lihat Al Irsyad ila Shahihil I’tiqad, hal. 9)

Landasilah Amal Ibadah dengan Iman

Sah dan tidaknya amalan seorang hamba, ditentukan dengan benar atau tidaknya keimanannya dan keadaan hatinya.

Allah ta’ala berfirman,
“Maka apakah orang-orang yang membangun bangunan (masjid) atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-Nya adalah lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh , lalu (bangunan) tersebut roboh bersama dia ke dalam neraka jahannam.” (QS. At Taubah :109)

Syaikh As Sa’diy rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya tatkala menafsirkan ayat tersebut, “Maksud dari membangun bangunan (amal ibadah) atas dasar taqwa adalah ‘atas dasar niat yang sholeh dan keikhlasan kepada Allah’. (Taisir Karimirrahman, hal 352)

Dan beliau rahimahullah juga mengatakan, “Sesungguhnya iman merupakan syarat sah dan diterimanya amal sholeh. Dan sebuah amal tidaklah dikatakan sebagai amal yang sholeh melainkan jika didasari dengan iman.” (Taisir Karimirrahman, hal 449)

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang hendak meninggikan bangunannya, maka hendaklah dia mengokohkan pondasinya dan memberikan perhatian penuh terhadapnya. Sesungguhnya kadar tinggi bangunan yang bisa dia bangun adalah sebanding dengan kekuatan pondasi yang dia buat. Amalan manusia adalah ibarat bangunan dan pondasinya adalah iman” (Al Fawa’id, hal. 229)
Kemudian beliau melanjutkan, “Adapun pondasi tersebut mencakup dua perkara : Pertama adalah pengenalan yang baik seorang hamba kepada Allah ‘Azza wa Jalla, seluruh perintah-Nya, nama dan kepada sifat-sifat-Nya yang mulia, dan yang kedua adalah ketundukan yang sempurna kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Al Fawa’id, hal 229-230)

Oleh karena itu, hendaklah seorang muslim memberi perhatian untuk memperbaiki keimanannya dan apa yang diyakini oleh hatinya dan berusaha meninggalkan berbagai bentuk keraguan yang dapat mengurangi dan membatalkan keimanannya.

Sufyan Ibnu ‘Uyainah rahimahullahu berkata, “Ulama-ulama terdahulu biasa saling mengirim nasehat satu dengan yang lainnya, ‘Barang siapa yang memperbaiki apa yang tersembunyi dalam hatinya, maka Allah akan memperbaiki apa yang nampak dari dirinya, dan barang siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan para manusia’”[1]

Iman, Sumber Kebahagiaan di Dunia dan di Akhirat

Allah ta’ala berfirman,
“Barang siapa yang beramal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan, dan dia adalah seorang yang beriman, maka Kami akan memberikan kehidupan yang baik, dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik, dari pada apa yang telah mereka kerjakan.”(QS. An Nahl : 97)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kehidupan yang baik di dunia adalah lapangnya dada dan tenangnya hati. Walaupun seorang mukmin sedang dilanda musibah yang sangat berat, maka dia akan tetap merasakan kehidupan yang baik, karena kebahagiaan yang hakiki adalah apa yang dirasakan oleh hatinya, yaitu kelapanganan dada dan ketenangan hati. Dan nikmat yang semacam ini tidaklah didapatkan oleh orang-orang yang tidak beriman (orang kafir).[2]

Syaikh As Sa’diy rahimahullah berkata, “Sebab yang paling agung dan paling mendasar yang dapat menyebabkan manusia memperoleh kebahagiaan, adalah iman dan amalan sholih”. Kemudian beliau membawakan ayat di atas (An Nahl : 97) dan mengatakan, “Allah ta’ala telah mengkhabarkan dan menjanjikan bagi orang yang menggabungkan antara iman dan amalan sholeh, bahwa mereka akan mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan balasan yang lebih baik ketika di dunia maupun kelak di alam yang abadi (kampung akhirat)”[3]

Oleh karena itu, apa yang menghalangi dan membuat kita enggan untuk segera membenarkan dan meluruskan iman dan keyakinan kita? Bukankah Allah subhaanahu wa ta’ala telah menawarkan janji berupa kebahagiaan hidup bagi orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya iman? Sesungguhnya Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya. Allahul Muwaffiq.

Iman pun Membutuhkan Bukti dan Realisasi

Sebelum membahas banyak tentang sub judul ini, ada baiknya apabila kita mengenal apa yang dimaksudkan dengan kata “iman”. Al Azhari berkata, ”Ahli ilmu dari kalangan pakar bahasa sepakat bahwa yang dimaksudkan dengan iman secara bahasa adalah ‘at tashdiq’ (pembenaran/keyakinan)”[4]

Adapun secara istilah makna iman adalah keyakinan dalam hati, yang diucapkan melalui lisan dan diamalkan dengan anggota badan. Pengertian semacam ini merupakan ijma’ (kesepakatan) ahlussunnah wal jama’ah.
Sebagai mana dikatakan oleh Imam Syafi’i rahimahullahu, “…dan telah menjadi kesepakatan di kalangan para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka, bahwa yang dimaksud dengan iman adalah perkataan, amal perbuatan, dan niat (keyakinan di dalam hati), dan tidaklah seseorang diberi balasan pahala melainkan karena ketiga hal tersebut”.[5]

Imam Al Ajuri rahimahullahu membuat sebuah bab dalam kitab beliau Asy Syari’ah, “Bab : Sesungguhnya iman adalah pembenaran dan keyakinan dalam hati, pengakuan dengan lisan, dan pengamalan dengan anggota badan. Dan seseorang tidak disebut beriman melainkan jika mengumpulkan ketiga unsur iman tersebut.”[6]

Inilah keimanan yang hakiki, terpatri kokoh di dalam hati seorang mukmin, terpancar dari lisannya dan tercermin dari tingkah laku dan perbuatannya. Terkumpul pada dirinya tiga hal, keyakinan, pengakuan dan pengamalan, satu dengan lainnya tidak terpisahkan.

Sahl bin Abdillah At Tustury rahimahullahu berkata, “Iman adalah perkataan, amalan, niat dan sunnah. Karena barangsiapa yang hanya mengumpulkan perkataan tanpa disertai amalan, maka ini adalah bentuk kekafiran, jika hanya mengumpulkan perkataan dan perbuatan tanpa disertai niat (keyakinan) maka ini adalah bentuk kemunafikan, dan jika hanya terkumpul perkataan, perbuatan, dan niat tanpa disertai sunnah, maka ini adalah bid’ah”.[7]

Mengenal Rukun Iman

Rukun iman yang harus diyakini oleh seorang mukmin ada enam. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh Malaikat Jibril ‘alaihis salam tentang iman, beliau shallallahu wa sallam bersabda,“Iman adalah engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya,kepada para rasul-Nya, kepada hari akhir dan engkau beriman terhadap taqdir (ketetapan) Allah, baik (ketetapan) yang baik maupun yang buruk”[8]

Inilah pondasi yang sangat mendasar dalam Islam, yang keenam hal tersebut disebut dengan “rukun iman”, pondasi yang harus dibenahi sebelum kita membenahi perkara-perkara lainnya dari kehidupan ini. Masing-masing rukun iman tersebut membutuhkan penjelasan tersendiri.

Semoga Allah memberikan kemudahan dalam membahas rukun iman lain secara lebih lengkap.

Allahul Muwwafiq. Washallallahu ‘ala Nabiyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.

Penulis: Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi
Muroja’ah: M. A. Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

[1] Diriwayatkan oleh Hinad bin Sirriy dalam Kitab Az Zuhud, Al Wakii’ dalam Az Zuhud dan Abu Nu’aim dalam Hilyah (kami mengutip dari Kitab Mukhtashor Al Iman Al Kabir, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, hal. 31, Maktabah Darul Minhaj)

[2] Kitabul ‘Ilmi, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin

[3] Al Wasailul Mufidah Lil Hayyatis Sa’iidah, Syaikh Abdurrahman As Sa’diy, As Syamilah.

[4] Tahdzib Lughah (15/513) (Penulis mengutip dari Kitab Mukhtashor Al Iman Al Kabir,

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, hal. 31, Maktabah Darul Minhaj)

[5] Sebagaimana disebutkan oleh Imam Al Lalika’I dalam syarah Ushul I’tiqad Ahli Sunnah wal jama’ah, hal. 1593.

[6] Asy Syari’ah (2/211)

[7] Lihat Mukhtashor Al Iman Al Kabir, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Cet. Maktabah Darul Minhaj, hal. 94-95.

[8] HR. Muslim, dalam shahihnya no. 8, dari shahabat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu


Tidak ada komentar: