Meluruskan Aqidah Sesuai Al Qur'an dan As Sunnah

Selasa, 30 September 2008

Sheikh Abdullah Azzam

"Ratusan tulisan dan pidatonya mampu menghidupkan ruh baru dalam diri ummat. Seolah-olah beliau dipilih Allah SWT untuk menegakkan kembali kewajiban yang telah dilupakan sebagian besar ummat Islam, yaitu jihad." Demikian komentar DR Dahba Zahely, cendekiawan Muslim Malaysia tentang DR Abdullah Azzam. Komentar senada juga datang dari cendekiawan dan ulama dari berbagai negara.

Sesungguhnya, Abdullah Azzam bukan hanya sosok mujahid di atas kertas dan podium, tetapi juga seorang mujahid yang gagah berani di medan tempur. Ia lahir dan besar di negeri penuh konflik, Palestina. Sejak kecil sudah dikenal sebagai anak yang pintar dan tegas. Sebelum usia akil baliq, ia sudah bergabung dengan Ikwanul Muslimin. Pada usia 20-an, bersama para pemuda Palestina ia sudah berani melawan Israel yang memiliki persenjataan canggih. Keterlibatannya langsung bertempur melawan zionis Israel, membangitkan semangatnya untuk belajar berbagai hal tentang perang.

Tidak hanya melawan Israel, tokoh kelahiran tahun l941 ini juga bertempur membantu pejuang Mujahiddin Afghanistan ketika mengusir tentara Uni Sovyet. Itu dilakukan setelah ia menyelesaikan program doktor di Universitas Al Azhar Mesir. Mulanya ia mengajar di Universitas Islam Antarbangsa di Islamabad Pakistan. Tetapi bau harum darah para syuhada Mujahiddin begitu kuat menggodanya. Akhirnya ia memutuskan bergabung dengan para pejuang Mujahiddin yang berlaga melawan Tentara Merah. Ia banyak belajar tentang jihad kepada para tokoh Mujahidin. Dan juga sebaliknya, para tokoh Mujahidin juga banyak belajar darinya. Abdullah Azzam menjadi seorang yang disegani di arena jihad Afghanistan, disamping para pemimpin Afghan sendiri.

Pada tahun 1980 ia pindah ke Peshawar. Di sana ia mendirikan Baitul Anshar, sebuah lembaga yang menghimpun bantuan untuk para mujahid Afghan. Ia juga menerbitkan sebuah media Ummah Islam. Lewat majalah inilah ia menggedor kesadaran ummat tentang jihad. Katanya, jihad di Afghan adalah tuntutan Islam dan menjadi tanggung jawab ummat Islam di seluruh dunia. Seruannya itu tidak sia-sia. Jihad di Afghan berubah menjadi jihad universal yang diikuti oleh seluruh ummat Islam di pelosok dunia. Pemuda-pemuda Islam dari seluruh dunia yang terpanggil oleh fatwa-fatwa Abdullah Azzam, bergabung dengan para mujahidin Afghan.

Jihad di Afghanistan telah menjadikan Abdullah Azzam sebagai tokoh pergerakan jihad zaman ini. Ia menjadi idola para mujahid muda. Peranannya mengubah pemikiran ummat Islam akan pentingnya jihad di Afghanistan telah membuahkan hasil yang sangat mengagumkan. Uni Sovyet sebagai negara Adidaya harus pulang dengan rasa malu, karena tidak berhasil menduduki Afghanistan.

Abdullah Azzam telah berhasil meletakkan pondasi jihad di hati kaum muslimin. Penghargaannya terhadap jihad sangat besar. "Aku rasa seperti baru berusia 9 tahun, 7 setengah tahun jihad di Afghan, 1 setengah tahun jihad di Palestina dan tahun-tahun yang selebihnya tidak bernilai apa-apa," katanya pada seuatu ketika. Ia juga mengajak keluarganya memahami dan memiliki semangat yang sama dengan dirinya. Isterinya menjadi pengasuh anak-anak yatim dan pekerja sosial di Afghanistan.

Komitmen Abdullah Azzam terhadap Islam sangat tinggi. Jihad sudah menjadi filosifi hidupnya. Sampai akhir hayatnya, ia tetap menolak tawaran mengajar di beberapa universitas. Ia berjanji terus berjihad sampai titik darah penghabisan. Mati sebagai mujahid itulah cita-citanya. Wajar kalau kemudian pada masa hidupnya dialah tokoh rujukan ummat dalam hal jihad. Fatwa-fatwanya tentang jihad selalu dinanti-nantikan kaum muslimin.

Tentu saja komitmen yang begitu besar itu telah menimbulkan keresahan di kalangan musuh-musuh Islam. Beberapa kali Abdullah Azzam menerima cobaan pembunuhan. Sampai akhirnya pada Jum'at, 24 November 1989. Tiga buah bom yang sengaja dipasang di gang yang biasa di lewati Abdullah Azzam, meledak ketika ia memarkir kendaraan untuk shalat jum'at. Sheik Abdullah bersama dua orang anak lelakinya, Muhammad dan Ibrahim, meninggal seketika. Kendaraan Abdullah Azzam hancur berantakan. Anaknya, Ibrahim, terlempar 100 meter; begitu juga dengan lainnya. Tubuh mereka juga hancur. Namun keanehan terjadi pada Sheikh Abdullah Azzam. Tubuhnya masih utuh bersandar pada sebuah tembok. Hanya sedikit darah yang mengalir dari bibirnya. Dalam peristiwa itu juga terbunuh anak lelaki al-marhum Sheikh Tamim Adnani (seorang perwira di Afghan). Sungguh beruntung orang-orang yang beriman dan beramal shaleh mendapatinya dengan wafat secara mendadak.

Kini Abadullah Azzam memang telah pulang ke rahmatullah, tetapi fatwa-fatwanya tetap hidup sepanjang masa. Cobalah renungi fatwanya berikut ini:

"Wahai kamu, anak-anak Islam! Biasakan dirimu dengan kebisingan bom-bom, peluru mortir dan pekikan senapan dan tank. Jauhilah kemewahan."

"Wahai kaum Muslimin, berimanlah dengan apa yang diimani oleh generasi pertama umat Islam, amalkan kebaikan, baca dan hafalkan al-Qur'an. Berhati-hatilah dengan apa yang kau katakan. Shalatlah pada malam hari, amalkan puasa sunat, carilah teman pergaulan yang baik dan ikutlah dalam pergerakan Islam."

"Ketahuilah bahwa pemimpin pergerakan tiada punya kuasa atas kamu untuk menghalangi kamu berjihad, atau mencegah kamu meninggalkan jihad demi menyebarkan dakwah, lantas menjauhkan kamu dari medan perang... Jangan sekali-kali minta pembenaran (lagi) kepada siapapun tentang jihad, sebab kebenarannya sudah pasti."

"Jihad tidak boleh ditinggalkan, karena Allah sendiri mengatakan bahwa jihad itu ibadah. Orang yang istiqomah berjihad diangkat tinggi derajatnya oleh Allah. Jihad adalah membebaskan manusia dari penindasan. Jihad itu melindungi martabat kita dan memperbaiki dunia. Jihad adalah jalan kemuliaan yang kekal."

Sumber: Hidayatullah
baca seterusnya ....

Jangan Matikan Cahayamu

Kalaulah diibaratkan bahwa dunia ini merupakan hutan belantara yang penuh, dengan kegelapan dan jalan yang berliku serta bercabang tidak karuan, yang jika tidak hati-hati akan tersesat dan tergelincir.
Itulah kenapa setiap orang yang masuk ke dalam hutan tak bertuan, hutan liar dan belantara, dibutuhkan 2 peralatan yang sangat penting, yaitu sebuah peta atau kompas, dan sebuah senter.

Peta atau kompas berfungsi untuk memandu arah dan jalan yang ditempuh sudah benar dan tepat. Sedangkan senter dibutuhkan untuk menjadi cahaya agar didalam berjalan tidak tersandung dan tidak terjatuh serta tidak tergelincir, yang bisa berakibat jatuh terperosok ke dalam jurang yang tak terlihat ujungnya.

Sebenarnya manusia itu sudah diberi Allah modal untuk keluar dengan selamat dari ganasnya belantara kehidupan yang makin hedonis dan materialis ini. Manusia sudah dibekali Allah dengan peta petunjuk atau kompas arah, agar didalam menempuh perjalanannya bisa tepat sesuai dengan jalan selamat yang semestinya ditempuh.

"Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang ada dalam dadamu, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Yunus : 57)

Pada dasarnya Allah telah memberi kita sebuah peta petunjuk yang pasti benar dan pasti menyelamatkan kita dari berbagai macam kesulitan dan keputus-asaan. Jika kita mengikuti peta petunjuk Allah itu, maka kita akan selamat, sampai tujuan dan menemukan kebahagiaan dan kesuksesan.

Seperti dalam keterangan ayat diatas, yang dibutuhkan sebenarnya hanya satu, yaitu keimanan, yaitu kepercayaan. Jika kita percaya dan yakin bahwa peta petunjuk Allah itu akan menyelamatkan kita, maka insya Allah akan keluar dari belantara dengan selamat. Barang siapa menjadikan petunjuk Allah itu sebagai pedoman hidupnya, dijamin akan selamat sampai tujuan

Yang kedua, Allah juga telah memberikan kepada kita sebuah senter, sebuah cahaya, agar di dalam menapaki jalan atau menapaki peta petunjuk Allah itu bisa aman dan nyaman. Boleh jadi jalan yang kita lalui sudah benar, tetapi jika tidak menggunakan lampu untuk cahaya kita tidak tahu ujung-ujungnya akan kemana, kita tidak tahu apakah ada hambatan, batu, hewan buas, bahkan mungkin perangkap, yang akan mencelakakan kita di tengah jalan, meskipun awalnya jalan kita sudah benar.

"Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad saw) supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji." (QS. Ibrahim : 1)

Dalam ayat diatas jelas, bahwa peran Nabi di dalam membawa kepada cahaya dengan petunjuk Allah sangat tidak bisa dipisahkan. Jadi barang siapa yang ingin bisa menapaki peta petunjuk dengan selamat maka haruslah dengan membawa cahaya, dan cahaya itu adalah apa yang sudah dicontohkan oleh Nabi saw di dalam menerjemahkan petunjuk itu sendiri kepada kita. Maka dari itu jangan padamkan cahaya kita sendiri dengan cara mengambil petunjuk bukan dari jalur Nabi, mencontoh kebenaran bukan dari contoh Nabi, dan menetapi kebenaran bukan dari apa yang sudah diajarkan Nabi.

Dengan kata lain, kita membuat-buat sesuatu yang tidak ada tuntunannya dari nabi, hanya mengikuti hawa nafsu kita saja. Bila begitu maka kita pasti akan tersesat, karena kita sudah memadamkan cahaya kita sendiri.

Maka jelaslah bagi kita, bahwa untuk mengarungi belantara kehidupan ini kita cukup berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Hadist, yang akan membimbing kita sampai tujuan dengan selamat.

sumber bacaan : majalah Qonsis
baca seterusnya ....

Dunia Dalam Secangkir Kopi

Syahdan, seorang raja hidup dalam kemewahan dan bergelimang harta. Ia memerintah rakyatnya dengan bijaksana, semua rakyatnya hidup dalam kemakmuran. Hingga datang seorang pemuda dari tanah seberang yang bersikap kritis dan berusaha untuk membuka celah aibnya.

"Hai Raja, kau ini mengaku telah memakmurkan rakyatmu tetapi lihat kau hidup dengan bergelimang kemewahan, bagaimana mungkin kau bisa merasakan penderitaan orang lain sementara kau sendiri sibuk memikirkan dirimu sendiri, memperkaya kantongmu dan pada akhirnya engkau akan menjadi bagian dari bahan bakar api neraka"

Raja yang bijaksana itu hanya tersenyum, anak muda ini memang belum tahu apa yang telah dilakukan oleh sang raja selama bertahun-tahun, membangun negerinya dengan cucuran keringat dan pikiran.

"Baiklah anak muda, kau menuduh aku hanya memikirkan kesejahteraan pribadi. Mari ikut aku" kata Raja tersebut. Pemuda tersebut pada akhirnya diajak untuk berjalan-jalan ke dalam istananya. Pemuda tadi berdecak kagum dengan keindahan dan kemewahan bangunannya.
"Bagaimana anak muda dengan istanaku bagus nggak?" kata sang Raja
Pemuda tadi membatin, Raja ini pasti sedang menunjukkan kesombongannya, maka segera ditegurnya sang Raja
"Hai raja, kau ini selain serakah juga sombong ya, rupanya kau mengajakku berkeliling istana hanya ingin memamerkan kekayaanmu"
"Sekarang begini saja anak muda kau akan kubawa ke tempat yang lebih bagus di sekitar istana ini, tetapi aku juga meminta tolong jaga secangkir kopi yang ada di genggaman tanganmu, jangan sampai kamu terlena dengan pemandangan sehingga kopi di genggaman tanganmu isinya berkurang atau tumpah

Karena tempatnya yang luas, pemuda tadi berkeliling istana sambil mengendarai kuda, dipilihnya kuda yang bagus dan gagah. Mulailah pemuda tadi berjalan pelan-pelan menikmati indahnya pemandangan istana, tetapi tiba-tiba kopi di genggamanannya akan tumpah karena guncangan. Pemuda tadi jadi teringat dengan pesan sang Raja agar menjaga kopinya, maka sepanjang perjalanan pemuda tadi terus menjaga agar kopi di genggamannya tidak sampai tumpah, Ia justru tidak menikmati pemandangan tadi.

Setelah perjalanan berakhir pemuda tadi ditanya oleh Sang Raja
"Bagaimana pemandangannya bukankah menyenangkan"
"Menyenangkan apanya, aku nggak sempat menikmati pemandangan itu, aku justru kau suruh untuk menjaga kopimu agar tidak tumpah"
"Itulah anak muda, akupun juga seperti itu, aku nggak sempat menikmati kemewahan istana karena seluruh pikiran dan jiwaku tercurah untuk kesejahteraan seluruh rakyatku"
Mendengar penjelasan Sang Raja, kikislah sudah buruk sangka dari pemuda tadi. (Prast)
baca seterusnya ....

Senin, 29 September 2008

Wajah-wajah yang Bercahaya di Hari Kiamat

Wudhu adalah syariat Allah yang sering kita lakukan walaupun tata caranya sangat ringkas dan praktis, tetapi di dalamnya mengandung faedah yang besar. Kelak di hari kiamat Rasulullah akan mengenali umatnya dari bekas wudhu yang terpancar dari wajah dan telapak tangannya, pada hari itu pula orang-orang kafir tertunduk sesal dengan wajah yang hitam legam.

Allah berfirman di dalam Al Qur’an :

“Pada hari (kiamat) yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu. Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.” (QS. Ali Imron : 106-107)

Rasulullah mengenali umatnya yang putih berseri karena mereka selalu menjaga wudhu. Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori.

"Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat nanti dalam keadaan dahi dan kedua tangan dan kaki mereka bercahaya, karena bekas wudhu." (HR Bukhori).

"Tahukah kalian bila seseorang memiliki kuda yang berwarna putih pada dahi dan kakinya di antara kuda-kuda yang berwarna hitam, yang tidak ada warna selainnya, bukankah Ia akan mengenali kudanya? Para sahabat menjawab, Tentu Ya Rasulullah, Rasulullah kemudian bersabda, Umatku nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi, kedua tangan dan kaki karena bekas wudhu mereka."(HR Muslim)

Berwudhu selain membersihkan anggota tubuh kita dari hadast kecil, tetapi juga melarutkan dosa-dosa kecil yang telah kita lakukan, Rasulullah SAW bersabda :

"Begitu seseorang berwudhu misalkan pada urutan pertama berkumur dan menghirup air, kemudian mengeluarkannya dari hidungnya melainkan keluar semua dosa-dosa dari mulut dan hidung. Kemudian jika ia membasuh mukanya menurut apa yang diperintahkan Allah, jatuhlah dosa-dosa mukanya dari ujung jenggotnya bersama tetesan air. Kemudian bila membasuh kedua tangan sampai kedua siku, jatuhlah dosa-dosa dari ujung jari-jarinya bersama tetesan air. Kemudian mengusap kepala maka jatuh semua dosa dari ujung rambut bersama tetesan air, kemudian membasuh dua kaki sampai ke mata kaki, maka jatuhlah semua dosa kakinya dari ujung jari bersama tetesan air. Maka bila ia shalat sambil memuja dan memuji Allah menurut lazimnya, dan membersihkan hati dari segala sesuatu selain Allah, maka keluar dari semua dosanya bagaikan lahir dari perut ibunya" (HR Muslim).

Kita sebagai umat Rasulullah merindukan kelak kita disapa Beliau di Hari Kiamat, hal itu bisa kita lakukan dengan menjaga wudhu atau membiasakan wudhu, tak hanya ketika akan shalat saja, tetapi dalam beberapa aktivitas ibadah seperti ketika hendak menuju masjid, ketika menyentuh mushaf Al Qur'an, ataupun ketika berangkat tidur. Para alim ulama selalu menjaga wudhu apabila batal, hal ini untuk menjaga kesuciannya dan zikirnya kepadaAllah.

Sumber bacaan : Majalah Qonsis
baca seterusnya ....

Sabtu, 27 September 2008

ISTIQAMAH

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan "Tuhan kami adalah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (beristiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushshilat, 30)


Menurut istilah bahasa istiqamah berarti tetap teguh, terus-menerus, konsisten atau teguh pendirian. Maksudnya adalah sikap kemantapan dalam menjalankan perintah-perintah Allah, menjauhi larangan-Nya dan mengikuti sunnah Rasul dalam semua amalnya. lstiqamah adalah salah satu sifat atau sikap yang terpuji, dan dimiliki para nabi dan rasul serta para pengikutnya yang setia.

Seperti kita ketahui bahwa kondisi keimanan setiap orang dapat bertambah dan berkurang (yaziidu wa yanqus) dari waktu ke waktu. Jika iman sedang naik akan bersemangat dalam melakukan ibadah. Tetapi jika iman sedang menurun semangat beribadah melemah atau menjadi malas. Allah SWT dalam Al-Qur'an surah Fushshilat di atas menjanjikan sorga serta tiadanya perasaan takut dan sedih bagi mereka yang istiqamah.

Para sahabat dan tabi'in memberi pengertian atau penafsiran tentang istiqamah antara lain seperti berikut:

Abu Bakar (radliyallahu 'anhu): "Mereka tidak mempersekutukan Allah sedikitpun dan tidak berpaling kepada selain Allah. Mereka beristiqamah di atas keyakinan bahwaAllah adalah Rabb mereka"

Umar bin Al-Khaththab (radliyallahu 'anhu): "Mereka istiqamah dengan taat kepada Allah dan tidak menyimpang sebagaimana menyimpangnya serigala"

Utsman bin Affan (radliyallahu 'anhu): " Istiqamah berarti segala amal ikhlas karenaAllah"

Ali (radliyallahu 'anhu): "Mereka istiqamah dalam menjalankan kewajiban-kewajiban yang Allah perintahkan"

Ibnu Abbas: "Mereka istiqamah di atas persaksian bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah"

Mujahid dan Ibrahim An-Nakha'i: "Mereka mengucapkan la ilaha illallah dengan tidak berbuat syirik setelahnya hingga berjumpa dengan Allah".

Upaya untuk menggapai agar hati istiqamah telah banyak disampaikan para ulama di antaranya adalah:

Pertama, menempatkan cinta kepada Allah SWT di atas segala-segalanya, dapat mengesampingkan semua kepentingan dunia yang selalu melingkupi kehidupan manusia.

Kedua, mentaati atau mengutamakan perintah dan larangan Allah, misalnya menjaga waktu shalat dan melakukannya dengan khusyu'.

Ketiga, selalu berzikir atau banyak mengingat kepada Allah, bahwa Allah selalu hadir dan melihat segala tindak-tanduknya.

Keempat, bergaul dengan orang-orang saleh dan ulama, agar selalu tertarik untuk meniru jejak dan menimba ilmu dari mereka.

Kelima, rajin mengikuti majelis talim atau pengajian agar selalu terbina keimanannya.

Perlu direnungkan dengan mendalam :
“Maka tetap teguhkan pendirianmu sebagaimana yang telah engkau diperintahkan serta orang-orang yang bertobat bersamamu” (QS. Hud, 112)

Sumber bacaan: Buletin Masjid Baiturrahim
baca seterusnya ....

Jumat, 26 September 2008

Bukan Sekedar LIDAH

Pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid, hidup seorang ulama bernama Abdullah bin Abdul Aziz Al-Amri. Di samping sebagai ulama, beliau juga seorang abid yang banyak sujud kepada Allah SWT. Namun ibadahnya yang banyak itu, tidak mendorong niat beliau untuk ber’uzlah (mengasingkan diri) dari masyarakat. Bahkan beliau termasuk da’i pemberani dalam menegakkan amar ma’ruf dan nahyu munkar.

Alkisah, ketika Khalifah Harun Al-Rasyid sedang melakukan ibadah haji, sebagaimana lazimnya penguasa sekarang, seluruh tempat yang akan dilaluinya ditutup untuk umum. Pada saat Khalifah sedang melakukan sa'i (lari kecil) antara Shafa dan Marwah seorang diri, sambil disaksikan ribuan jamaah haji, berkatalah salah seorang dari mereka kepada ulama tadi, "Hai tuan guru, apakah boleh seorang khalifah mencegah rakyatnya beribadah kepada Allah?” Ulama itu menjawab, “Apakah kamu ingin agar aku mencegah kezaliman ini padahal kamu tidak berani melakukannya? Orang yang tidak mampu membela kebenaran adalah syetan bisu”.
Selanjutnya berangkatlah Abdullah Al-Amri ke tempat sa'i, sesampainya di dekat Shafa, kebetulan saat itu khalifah baru saja tiba di sana, berteriaklah beliau, “Haruuun ….! (tanpa menyebut jabatan khalifah). Mendengar jeritan tadi, seluruh jamaah haji –termasuk khalifah– menghadapkan wajahnya ke arah datangnya suara. Setelah khalifah tahu siapa yang memanggilnya, segera beliau menjawab, “Labbaika ya' amin.”
“Naiklah ke bukit Shafa! Lihatlah ke Ka'bah, berapakah jumlah manusia di sana?” Tanya sang ulama. “Tidak ada yang bisa menghitungnya kecuali Allah,” jawab khalifah. “Ketahuilah, setiap orang dari mereka akan diminta pertanggungjawabanmu oleh Allah atas dirimu dan seluruh rakyatmu. Lihatlah kepada dirimu! Apakah pantas engkau perlakukan umat seperti ini?” Mendengar ucapan ulama tersebut, menangislah khalifah seraya mengakui kesalahannya yang beliau lakukan.

Dari kisah di atas, dapat diambil pelajaran betapa lidah itu mempunyai peran yang sangat penting dalam menegakkan Al-Haq. Dan benarlah pepatah “Lidah lebih tajam dari pedang”. Allah SWT juga memuji orang-orang yang mengaktifkan lidahnya untuk berda'wah.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang-orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh dan berkata “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri”. (Q.S 41:33)

Sebagai salah satu sarana amar ma'ruf nahyu munkar, lidah telah terbukti keampuhannya sejak dimulainya dakwah Islam oleh Rasulullah SAW. Dia ampuh untuk mengajak kepada kebaikan, juga untuk mencegah kemungkaran dan kebatilan. Sejarah telah mencatat betapa seorang nenek tua berani menegur Umar bin Khathab yang sedang berpidato di atas mimbar, karena kekeliruan khalifah dalam masalah mas kawin. Juga ketika khalifah Umar baru saja diangkat menjadi pemimpin umat, Beliau berpidato di atas mimbar, seraya berkata, “Hai manusia, apakah yang akan kalian kerjakan jika aku menyimpang dalam memimpin umat?” Kami akan luruskan penyimpangan Anda dengan pedang kami”. Inilah contoh dari keberanian umat dalam menegakkan Al-Haq.

Pada saat lidah menjadi tumpul, banyak sekali kerusakan dan kemungkaran yang ditimbulkan oleh masyarakat dan kalau kemungkaran sudah dominan, pembela Al-Haq tak akan berharga lagi. Orang-orang jujur menjadi hina. Masyarakat lebih cenderung kepada maksiat, dan kebenaran hanya menjadi permainan lidah. Yang muda durhaka dan yang tua bergelimang dosa.
Alquran hanya sebagai nyanyian dan ulama penuh dengan kemunafikan. Yang kecil tidak menghormati yang besar dan yang kaya tidak mengasihi yang miskin. Pada saat itu ilmu dikuasai orang-orang bejat dan kekuasaan dipegang oleh orang-orang tamak. Kalau yang demikian itu sudah terjadi, mungkin laknat Allah yang akan tiba sebagaimana yang terjadi pada Bani Israel dahulu.

Firman Allah:
Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka selalu durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu." (QS 5:78-79).

Dalam kaitan ayat di atas, Ustadz Sayyid Qutb menulis dalam tafsir Zhilalnya, ”Manhaj Islami menghendaki agar jamaah muslimah memiliki eksistensi yang hidup dan kokoh. Ia harus mampu menolak berbagai bentuk penyimpangan dan kemaksiatan sebelum menjadi fenomena umum di masyarakat. Ia harus kokoh membela Al-Haq dan peka terhadap gejala-gejala kebatilan. Sebagaimana manhaj tadi juga menghendaki kepada tokoh masyarakat dan agama agar melaksanakan amanah yang dibebankan dan mampu menghadapi berbagai bentuk kejahatan, kerusakan dan kezaliman, tanpa sedikit pun dihantui rasa takut kepada penguasa, kaum elit danlih berganti dengan segala kezaliman dan kebiadabannya. Sayangnya, sejarah terkadang sepi dari tokoh-tokoh Al-Haq yang akan mengimbangi bahkan mengalahkan kebatilan tersebut. Kalau dulu, ketika terjadi riddah (keluar dari agama) ada Abu Bakar Shiddiq, siapakah tokoh yang diharapkan menghadapi pemurtadan masa kini? Rasanya setiap muslim sekarang ini harus mengasahi lidahnya, agar tidak tumpul ketika menyaksikan kebenaran dikebiri dan kebatilan disanjung-sanjung."
baca seterusnya ....

Sepuluh Wasiat

Bacalah-Renungilah-Kemudian Terus Beramal
oleh Asy-Syahid Al Imam Hasan Al Bana


Apabila saudara mendengar azan, maka bangunlah bersholat dengan segera, walau bagaimana keadaan sekalipun.

Bacalah Al Quran atau tatapilah buku-buku atau pergilah mendengar perkara-perkara yang baik ataupun amalkanlah zikrullah dan jangan sama sekali saudara membuang masa walau sedikit pun dalam perkara yang tidak berfaedah.

Berusahalah seberapa daya-upaya untuk bertutur dalam bahasa Arab yang betul karena bahasa Arab yang betul adalah satu-satunya syiar Islam.

Janganlah banyak bertengkar dalam suatu perkara karena pertengkaran kosong itu tidak memberi sedikit pun kebaikan.

Janganlah banyak ketawa karena hati yang sentiasa berhubung dengan Allah itu sentiasa tenang lagi tentram.

Janganlah bergurau karena umat yang sedang berjuang itu tidak mengerti melainkan bersungguh-sungguh dalam setiap perkara.

Janganlah saudara bercakap lebih nyaring daripada kadar yang dikehendaki oleh pendengaran karena percakapan yang nyaring begitu adalah suatu sifat yang sia-sia malah menyakiti hati orang.

Jauhilah dari mengumpat-ngumpat pribadi orang dan juga jauhilah dari mengecam cacat orang lain dan jangan bercakap melainkan apa-apa yang boleh memberi kebajikan.

Berkenal-kenallah dengan tiap-tiap saudara Muslimin yang saudara bertemu dengannya sekalipun ia tidak meminta saudara berkenalan karena asas gerakan Dakwah ialah kasih-sayang dan silaturahmi

Kewajiban-kewajiban kita lebih banyak daripada masa yang ada pada kita, oleh itu bantulah saudaramu sendiri tentang cara-cara bagaimana hendak menggunakan masa dengan berfaedah dan jika saudara mempunyai tugas sendiri maka ringkaskanlah pelaksanaannya.
baca seterusnya ....

8 Kerugian Akibat Hawa NAfsu

Menahan hawa nafsu lebih mudah daripada menahan konsekuensi yang diakibatkan oleh hawa nafsu tersebut. Nafsu yang tidak terkendali menyebabkan delapan bencana.
  1. rasa sakit dan penderitaan.
  2. terputusnya nikmat yang lebih sempurna.
  3. hilangnya waktu yang dapat menyebabkan kerugian dan penyesalan.
  4. lenyap dan hilangnya harta benda, nama baik, kewibawaan dan kekayaan.
  5. tertutupnya pintu kebaikan dan dilanda kesedihan, duka cita dan penderitaan yang tidak sebanding dengan nikmatnya syahwat.
  6. melupakan ilmu yang mengingatnya lebih nikmat daripada mengumbar hawa nafsu.
  7. membahagiakan musuh dan menyengsarakan wali.
  8. memutus jalan nikmat dan mendapatkan aib yang sulit dihilangkan.
Sesungguhnya amal perbuatan mewariskan sifat dan akhlak.

Sumber bacaan :
Ibnu Qayyim al-Jauziah dalam al-Fawa’id
baca seterusnya ....