Meluruskan Aqidah Sesuai Al Qur'an dan As Sunnah
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Agustus 2010

Jangan Lari dari Ujian Hidup


“Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan Allah; namun barangsiapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.”

Sabda Rasulullah saw. ini ada dalam Kitab Sunan Tirmidzi. Hadits 2320 ini dimasukkan oleh Imam Tirmidzi ke dalam Kitab “Zuhud”, Bab “Sabar Terhadap Bencana”. Hadits Hasan Gharib ini sampai ke Imam Tirmidzi melalui jalur Anas bin Malik. Dari Anas ke Sa’id bin Sinan. Dari Sa’id bin Sinan ke Yazid bin Abu Habib. Dari Yazid ke Al-Laits. Dari Al-Laits ke Qutaibah.


Perlu Kacamata Positif

Hidup tidak selamanya mudah. Tidak sedikit kita saksikan orang menghadapi kenyataan hidup penuh dengan kesulitan. Kepedihan. Dan, memang begitulah hidup anak manusia. Dalam posisi apa pun, di tempat mana pun, dan dalam waktu kapan pun tidak bisa mengelak dari kenyataan hidup yang pahit.

Pahit karena himpitan ekonomi. Pahit karena suami/istri selingkuh. Pahit karena anak tidak saleh. Pahit karena sakit yang menahun. Pahit karena belum mendapat jodoh di usia yang sudah tidak muda lagi.

Sayang, tidak banyak orang memahami kegetiran itu dengan kacamata positif. Kegetiran selalu dipahami sebagai siksaan. Ketidaknyamanan hidup dimaknai sebagai buah dari kelemahan diri. Tak heran jika satu per satu jatuh pada keputusasaan. Dan ketika semangat hidup meredup, banyak yang memilih lari dari kenyataan yang ada. Atau, bahkan mengacungkan telunjuk ke langit sembari berkata, “Allah tidak adil!”

Begitulah kondisi jiwa manusia yang tengah gelisah dalam musibah. Panik. Merasa sakit dan pahit. Tentu seorang yang memiliki keimanan di dalam hatinya tidak akan berbuat seperti itu. Sebab, ia paham betul bahwa itulah konsekuensi hidup. Semua kegetiran yang terasa ya harus dihadapi dengan kesabaran. Bukan lari dari kenyataan. Sebab, ia tahu betul bahwa kegetiran hidup itu adalah cobaan dari Allah swt. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 155)

Hadits di atas mengabarkan bahwa begitulah cara Allah mencintai kita. Ia akan menguji kita. Ketika kita ridha dengan semua kehendak Allah yang menimpa diri kita, Allah pun ridha kepada kita. Bukankah itu obsesi tertinggi seorang muslim? Mardhotillah. Keridhaan Allah swt. sebagaimana yang telah didapat oleh para sahabat Rasulullah saw. Mereka ridho kepada Allah dan Allah pun ridho kepada mereka.

Yang Manis Terasa Lebih Manis

Kepahitan hidup yang dicobakan kepada kita sebenarnya hanya tiga bentuk, yaitu ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta. Orang yang memandang kepahitan hidup dengan kacamata positif, tentu akan mengambil banyak pelajaran. Cobaan yang dialaminya akan membuat otaknya berkerja lebih keras lagi dan usahanya menjadi makin gigih. Orang bilang, jika kepepet, kita biasanya lebih kreatif, lebih cerdas, lebih gigih, dan mampu melakukan sesuatu lebih dari biasanya.

Kehilangan, kegagalan, ketidakberdayaan memang pahit. Menyakitkan. Tidak menyenangkan. Tapi, justru saat tahu bahwa kehilangan itu tidak enak, kegagalan itu pahit, dan ketidakberdayaan itu tidak menyenangkan, kita akan merasakan bahwa kesuksesan yang bisa diraih begitu manis. Cita-cita yang tercapai manisnya begitu manis. Yang manis terasa lebih manis. Saat itulah kita akan menjadi orang yang pandai bersyukur. Sebab, sekecil apa pun nikmat yang ada terkecap begitu manis.

Itulah salah satu rahasia dipergilirkannya roda kehidupan bagi diri kita. Sudah menjadi ketentuan Allah ada warna-warni kehidupan. Adakalanya seorang menatap hidup dengan senyum tapi di saat yang lain ia harus menangis.

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Ali ‘Imran: 140)

Begitulah kita diajarkan oleh Allah swt. untuk memahami semua rasa. Kita tidak akan mengenal arti bahagia kalau tidak pernah menderita. Kita tidak akan pernah tahu sesuatu itu manis karena tidak pernah merasakan pahit.

Ketika punya pengalaman merasakan manis-getirnya kehidupan, perasaan kita akan halus. Sensitif. Kita akan punya empati yang tinggi terhadap orang-orang yang tengah dipergilirkan dalam situasi yang tidak enak. Ada keinginan untuk menolong. Itulah rasa cinta kepada sesama. Selain itu, kita juga akan bisa berpartisipasi secara wajar saat bertemu dengan orang yang tengah bergembira menikmati manisnya madu kehidupan.

Bersama Kesukaran Selalu Ada Kemudahan

Hadits di atas juga berbicara tentang orang-orang yang salah dalam menyikapi kesulitan hidup yang membelenggunya. Tidak dikit orang yang menutup nalar sehatnya. Setiap kegetiran yang mendera seolah irisan pisau yang memotong syaraf berpikirnya. Kenestapaan hidup dianggap sebagai stempel hidupnya yang tidak mungkin terhapuskan lagi. Anggapan inilah yang membuat siapa pun dia, tidak ingin berubah buat selama-lamanya.

Parahnya, perasaan tidak berdaya sangat menganggu stabilitas hati. Hati yang dalam kondisi jatuh di titik nadir, akan berdampat pada voltase getaran iman. Biasanya perasaan tidak berdaya membutuhkan pelampiasan. Bentuk bisa kemarahan dan berburuk sangka. Di hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi di atas, bukan hal yang mustahil seseorang akan berburuk sangka terhadap cobaan yang diberikan Allah swt. dan marah kepada Allah swt. “Allah tidak adil!” begitu gugatnya.

Na’udzubillah! Orang yang seperti ini, ia bukan hanya tidak akan pernah beranjak dari kesulitan hidup, ia justru tengah membuka pintu kekafiran bagi dirinya dan kemurkaan Allah swt. Karena itu, kita harus sensitif dengan orang-orang yang tengah mendapat cobaan. Harus ada jaring pengaman yang kita tebar agar keterpurukan mereka tidak sampai membuat mereka kafir.

Mungkin seperti itu kita bisa memaknai hadits singkat Rasulullah saw. ini, “Hampir saja kemiskinan berubah menjadi kekufuran.” (HR. Athabrani)

Tentu seorang mukmin sejati tidak akan tergoyahkan imannya meski cobaan datang bagai hujan badai yang menerpa batu karang. Sebab, seorang mukmin sejati berkeyakinan bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan. Setelah hujan akan muncul pelangi. Itu janji Allah swt. yang diulang-ulang di dalam surat Alam Nasyrah ayat 5 dan 6, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Jadi, jangan lari dari ujian hidup!

Oleh: Mochamad Bugi

baca seterusnya ....

Sabtu, 14 Agustus 2010

Ramadhan, Sabar, dan Kecerdasan Emosi


Ramadhan kembali hadir di tengah-tengah kita. Kaum Muslimin menyambutnya dengan perasaan gembira. Hanya saja, sebagian menyambutnya dengan rasa syahdu, sementara yang lain menyambutnya sebatas sebuah tradisi yang dijalankan setiap tahun.
Sebagian menjadikan Ramadhan sebagai sarana perbaikan diri, sementara yang lain tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari bulan yang luar biasa ini, selain lapar, haus, dan letih belaka. Sungguh sayang sekiranya kita berpuasa sebulan penuh tapi tidak ada perbaikan diri yang dicapai saat keluar dari bulan yang mulia ini.


Bulan Ramadhan memiliki banyak keutamaan. Selain dikenal sebagai Syahrul Qur’an, Syahrul Jihad, dan beberapa nama lainnya, bulan Ramadhan juga dikenal sebagai Syahrus Shabr, bulan kesabaran. Pada bulan Ramadhan kita memang dituntut untuk banyak bersabar dan menahan diri.

Dengan berpuasa, kita harus bersabar dengan rasa lapar dan haus yang kita tanggung sejak pagi hari hingga matahari terbenam. Kita juga harus bersabar dan menahan lidah kita dari mengucapkan yang tidak baik atau marah-marah. Jika ada yang mengajak berkelahi, kita dianjurkan untuk bersabar dan menjelaskan kepada orang itu bahwa kita sedang berpuasa.
Saat berbuka puasa kita juga dianjurkan bersabar dan tidak menghabiskan terlalu banyak makanan. Kita juga dianjurkan untuk memperbanyak bacaan Al-Quran dan shalat malam pada bulan Ramadhan. Semuanya membutuhkan kesabaran.

Istilah sabar sangat akrab di telinga kaum Muslimin, tetapi tidak semua orang memahami dan menghargai kesabaran. Tidak jarang kesabaran diidentikkan dengan kelemahan dan ketidakberdayaan. Orang yang sabar kadang dilihat sebagai orang yang pengalah dan tak berdaya. Padahal sabar adalah sumber kekuatan.

Di dalam Al-Quran dijelaskan bahwa satu orang yang sabar mampu mengalahkan sepuluh lawan dalam pertempuran, atau setidaknya mereka mampu menghadapi lawan sebanyak dua kali jumlah mereka (QS 8: 65-66). Ia juga merupakan suatu anugerah yang besar. Tentang ini Rasulullah SAW bersabda, "…dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran." (Muttafaqun Alaih)

Kesabaran merupakan karakter yang sangat mulia dan ia bisa diraih dengan cara melatih dan membiasakan diri dengannya. Rasulullah SAW pernah menjelaskan, "…barang siapa yang mensabar-sabarkan diri (berusaha untuk sabar), maka Allah akan menjadikannya seorang yang sabar…" (HR. Bukhari). Bulan Ramadhan merupakan kesempatan yang besar bagi seorang Muslim untuk melatih kesabaran. Ia dilatih untuk mengontrol jiwanya dari pengaruh hawa nafsunya. Dengan begitu ia bisa keluar dari bulan Ramadhan sebagai pribadi yang kuat dan pandai mengendalikan diri dan emosinya.

Sabar memiliki pengertian yang luas. Secara umum para ulama menjelaskan bahwa sabar memiliki tiga aspek, yaitu sabar dalam menjalankan perintah Allah, sabar menahan diri dari yang dilarang oleh-Nya, dan sabar terhadap ketetapan-Nya. Menariknya, konsep sabar juga mencakupi hampir seluruh pengertian kecerdasan emosi (emotional intelligence).

Dalam beberapa tahun belakangan ini, kecerdasan emosi sering diperbincangkan dan dianggap tidak kalah penting, atau malah lebih penting, dari kecerdasan intelektual (IQ). Kecerdasan emosi dipercayai oleh sebagaian ahli sebagai faktor yang lebih penting dalam menjamin kesuksesan seseorang. Dan tidak seperti IQ, kecerdasan emosi bisa dilatih dan dikembangkan.
Jika kita memperhatikan penjelasan tentang kecerdasan emosi, ternyata konsep kecerdasan ini juga tercakup dalam konsep kesabaran sebagaimana akan dibahas nanti. Tapi sebelumnya, marilah kita perhatikan penjelasan umum tentang kecerdasan emosi terlebih dahulu.

Apa yang dimaksud dengan kecerdasan emosi? Kapan dikatakan seseorang memiliki emosi yang cerdas? Setidaknya ada dua ciri-ciri kecerdasan emosi. Pertama, seorang dikatakan memiliki kecerdasan emosi ketika ia mampu mengendalikan emosinya. Orang yang tidak pandai mengendalikan emosi, atau orang yang sering dikendalikan oleh emosinya, merupakan orang yang tidak cerdas secara emosi.

Emosi memiliki banyak bentuk. Ia bisa berupa kemarahan, rasa takut, rasa cinta atau keinginan yang kuat, rasa cemas, dan lain sebagainya. Seorang yang tidak pandai mengendalikan emosi-emosi ini merupakan orang yang tidak cerdas secara emosi.
Seorang yang memiliki IQ tinggi tapi tidak pandai mengontrol emosinya, boleh jadi akan menjumpai kegagalan dalam hidupnya. Di Amerika Serikat pernah ada kasus di mana seorang anak SMA memiliki nilai sangat bagus. Ia lulus dengan nilai hampir semuanya sembilan dan sepuluh. Tapi ada satu mata pelajaran di mana ia mendapat nilai delapan dan itu membuatnya sangat gelisah.

Ia ingin masuk ke sebuah universitas terbaik dan nilai delapan itu merupakan penghalang bagi cita-citanya. Ia mendatangi guru mata pelajaran terkait dan memohon agar bisa menaikkan nilainya. Guru tersebut menolak dan menyatakan kalau nilainya sudah final. Anak ini begitu kecewa dan frustrasi. Ia merasa marah dan takut gagal. Ia merasa kesal dengan sang guru sampai akhirnya ia menikam guru itu dengan senjata tajam.

Begitulah, anak dengan nilai pelajaran begitu tinggi, akhirnya melanjutkan kariernya ke penjara. Kasus ini memperlihatkan betapa kecerdasan emosi bisa lebih menentukan dibandingkan IQ dalam menentukan kesuksesan seseorang. Anak yang cerdas tadi tidak pandai mengendalikan emosinya, dan ia pun akhirnya jatuh dalam masalah yang sangat serius.

Antara kecerdasan dan kesabaran

Ciri-ciri pertama dari kecerdasan emosi ini sudah tercakup di dalam konsep sabar menurut Islam. Dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra dikatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, "Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah." (HR. Bukhari).

Dengan kata lain, orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan emosinya. Walaupun Rasulullah tidak secara khusus menyebutkan kata sabar di dalam hadith ini, tapi para ulama menjelaskan hadith ini dalam konteks kesabaran. Orang yang mampu mengendalikan emosinya adalah orang yang sabar. Ketika ia berhadapan dengan situasi yang mendorongnya merespon dengan emosi negatif, maka dalam situasi semacam itu ia tetap mampu memilih respons emosi yang positif.

Ini seperti yang digambarkan oleh Abdullah bin Mas'ud ketika ia berkata, "Seakan-akan aku memandang Rasulullah SAW menceritakan salah seorang nabi, yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah, kemudian ia mengusap darah dari wajahnya seraya berkata, 'Ya Allah ampunilah dosa kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui." (HR. Bukhari) Orang-orang semacam ini adalah orang-orang yang kuat, orang-orang yang sabar, dan orang-orang yang memiliki kecerdasan emosi tinggi.

Ciri yang kedua dari kecerdasan emosi adalah ’kemampuan dalam menunda pemuasan.’ Orang yang cerdas emosinya, memiliki kemampuan untuk menunda pemuasan dirinya. Sementara orang yang tidak cerdas secara emosi, cenderung ingin memuaskan dirinya sesegera mungkin.
Orang-orang yang mau menunda pemuasan dirinya, melakukan hal itu karena mereka ingin mendapatkan kepuasan yang lebih sempurna di masa depan. Dan itu hanya bisa dilakukan dengan cara menunda pemuasan yang ada saat ini. Oleh karenanya, orang yang cerdas secara emosi memiliki potensi lebih besar dalam meraih keberhasilan dalam hidup.

Mari kita ambil permisalan. Seorang anak memutuskan untuk belajar dan menahan keinginannya nonton TV demi meraih keberhasilan di masa depan. Nonton TV merupakan kepuasan yang segera. Namun dengan menahan diri, ia hendak meraih kepuasan yang lebih besar lagi di masa depan.

Seorang pekerja memutuskan untuk hidup hemat dan menabung, walaupun sebenarnya ia bisa menghabiskan uangnya untuk membeli makanan yang enak-enak atau membeli berbagai kesenangan lainnya. Itu semua merupakan pemuasan diri yang segera. Namun ia memutuskan untuk menundanya demi kepuasan yang lebih besar. Ia menabung dan setelah uangnya banyak ia menginvestasikannya, sehingga ia bisa meraih penghasilan lebih besar suatu saat nanti.

Sekumpulan anak SD di sebuah sekolah di Amerika pernah dites dengan sekeranjang permen marshmallow. Mereka boleh langsung mengambil permen yang lezat tersebut, tapi mereka hanya akan mendapatkan satu buah saja. Adapun yang mau menunggu sepuluh menit akan mendapatkan dua permen.

Sebagian anak langsung berhamburan ke depan dan mengambil satu permen. Mereka mencari pemuasan yang segera. Namun ada sebagian anak yang memilih untuk menunggu sepuluh menit. Mereka menunda pemuasan diri demi kepuasan yang lebih besar: mendapatkan dua buah permen. Nama-nama anak itu dicatat berikut pilihan mereka. Perkembangan hidup mereka diamati. Anak-anak yang mampu menunda pemuasan diri, dengan kata lain anak-anak yang memiliki kecerdasan emosi lebih, terbukti lebih sukses di sekolah dan di dunia kerja.

Perhatikan baik-baik ciri yang kedua di atas. Bukankah ini juga bagian dari konsep kesabaran. Kesabaran juga membimbing seseorang untuk menunda pemuasan diri yang segera demi kepuasan yang lebih besar.

Seorang Muslim diarahkan untuk bersabar dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ketika melakukan itu, ia terhalang dari pemuasan diri yang segera. Tapi semua itu dilakukan demi mencapai kepuasan yang lebih besar dan lebih abadi. Ia dilarang memuaskan diri dengan meminum khamr, karena dengan itu ia akan meraih kepuasan yang lebih sempurna, yaitu kesehatan pikiran dan jiwa.

Ia dilarang memuaskan lidahnya dengan berkata dusta atau membicarakan orang lain, karena dengan itu ia akan mendapatkan kepuasan yang lebih besar berupa kepercayaan dan persahabatan yang tulus. Ia diperintah bersabar mengerjakan shalat dan puasa, karena dengan itu ia akan mendapat kepuasan yang sangat besar berupa ketenangan, kebersihan jiwa, kesehatan, dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Seorang Muslim memang diperintah bersabar dan menunda pemuasan dirinya, karena agama ini hendak membimbingnya pada kepuasan yang lebih indah dan lebih sempurna.

Ketika seorang berpuasa di bulan Ramadhan, ia terpaksa bersabar dan menunda pemuasan yang segera berupa makan di saat perutnya terasa lapar dan minum tatkala ia merasa haus. Namun, pada akhirnya ia akan mendapatkan kepuasan dan kegembiraan yang lebih tinggi dan agung. Rasulullah SAW bersabda, ”... Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan (farhatain), yaitu kegembiraan tatkala ia berbuka dan kegembiraan tatkala ia bertemu dengan Rabb-nya....” (Muttafaq ’alaihi).

Coba perhatikan bagaimana rasanya ketika kita berbuka puasa setelah seharian menahan haus dan lapar. Bukankah rasanya nikmat sekali? Bukankah kepuasannya jadi berlipat ganda? Belum lagi kepuasan jangka panjang lainnya yang akan ia raih: kesehatan tubuh, dan juga perjumpaan dengan Rabb-nya di surga kelak.

Berdasarkan penjelasan di atas kita bisa menyimpulkan bahwa puasa di bulan Ramadhan merupakan suatu sarana penting dalam melatih kesabaran. Melatih kesabaran secara otomatis juga berarti melatih kecerdasan emosi. Karena orang yang sabar adalah orang yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi.

Ketika berpuasa seorang Muslim diarahkan untuk bersabar dan menahan/mengendalikan emosinya. Ketika berpuasa ia juga dibimbing untuk menunda pemuasan dirinya. Ini semua juga merupakan ciri-ciri kecerdasan emosi. Melalui ibadah Ramadhan ini, seharusnya kaum Muslimin bisa membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih sabar. Seharusnya ia bisa keluar dari bulan Ramadhan sebagai pribadi yang lebih cerdas secara emosi.

Dengan demikian, melalui bulan Ramadhan seorang Muslim seharusnya mampu membentuk kepribadiannya menjadi seorang yang siap untuk meraih kesuksesan dan keberhasilan dalam hidup. Karena Ramadhan mempersiapkan diri kita untuk menjadi pribadi yang berprestasi dan siap menghadapi tantangan dan kesulitan hidup. Semua itu akan bisa diraih sekiranya kita menjalaninya dengan pemahaman dan kesungguhan. Wallahu a’lam bis showab 

Oleh: Alwi Alatas
www.hidayatullah.com
baca seterusnya ....

Selasa, 26 Januari 2010

Ancaman Bahaya INFORMASI

Dewasa ini banyak tersebar media informasi yang tidak bertanggung jawab, seperti brosur, majalah, koran, radio dan televisi. Mereka sangat gencar menyuguhkan gambar-gambar wanita yang suka pamer perhiasan, bergaul bebas dan buka-bukaan. Haruskah muslimah ikut menjadi korban ?

Memang demikianlah fenomena yang kita saksikan. Kebanyakan remaja, khususnya muslimah termakan oleh berbagai bujuk rayu yang disajikan oleh media-media tersebut. Kalau kita tengok aktivitas para remaja, diantara mereka ada yang betah duduk berjam-jam demi menghabiskan sebuah novel percintaan. Atau diantara mereka ada yang sibuk mengejar gosip-gosip terbaru tentang artis idolanya. Ada juga yang suka menanti koran harian atau majalah untuk melihat ramalan bintang yang katanya bisa meramal nasib seseorang, baik atau buruk. Subhanallah. Bahkan ada yang kecanduan koran atau buku-buku yang berbahaya seperti filsafat dan ilmu kalam. Diantaranya juga ada orang yang betah nongkrong di depan layar televisi, asyik menikmati racun-racun yang ditebarkan oleh tayangan tersebut.

Bahaya yang Mengancam

Bila keadaan remaja muslim atau muslimah seperti ini, maka dapat kita bayangkan dan kita lihat sendiri bahaya yang terjadi. Kenyataan yang dapat kita saksikan adalah kecenderungan mereka untuk mengangkat tokoh idola seperti artis penyanyi atau bintang film. Akibatnya gaya hidup sang idolapun tercermin dalam gaya hidupnya, seperti pergaulan bebas, pakaian terbuka, hura-hura, dan pamer perhiasan. Dan akibat dari pergaulan bebas adalah perzinaan, selanjutnya akan diikuti oleh kerusakan-kerusakan yang lain. Trend mencari popularitaspun ikut merasuki pemikiran sang remaja, akhirnya mereka berlomba-lomba untuk menjadi pemenang cover girl atau cover boy (gambar sampul depan majalah). Menurutnya suatu kebanggaan bila wajahnya jadi bahan tontonan dan pujian. Subhanallah !

Disamping bahaya tersebut, berapa banyak mereka harus menghabiskan waktu dengan sia-sia, sementara itu banyak pula kewajiban-kewajiban yang terbengkalai. Sempatkah mereka memikirkan ibadahnya, padahal mereka mengaku beragama Islam ?!

Sholeh bin Muqbil Al-Ushaimi mengatakan bahwa kecintaan kepada koran dan majalah dapat menghalangi seseorang untuk melakukan kebaikan. Bila ia berpikir menghafal Al-Qur'an atau membaca kitab, ia tidak memiliki waktu. Kecintaannya membaca koran atau majalah menyita semua waktunya untuk membaca yang lebih bermanfaat. Bahkan hingga ada yang kuat membaca tiga ratus halaman majalah dan koran setiap harinya, tapi tidak mampu membaca satu ayat saja dari Al-Qur'an, apalagi membaca kitab atau risalah kecil.

Demikian sebagian fenomena yang kita lihat, Al-Qur'an seolah-olah jadi barang antik yang dimusiumkan, disimpan ditempat yang paling indah tapi hanya jadi pajangan. Akhirnya kebodohan yang muncul kepermukaan. Subhanallah !

Kewajiban yang Terlalaikan

Para remaja muslim dan muslimah memang harus menyadari akan bahaya yang mengancam tersebut. Bila tidak, ia akan terus terseret dalam kebodohan, kegelapan, dan dapat membawa pada kebinasaan di dunia dan akhirat. Kewajiban yang sering dilalaikan oleh remaja muslim dan muslimah adalah menuntut ilmu syar'i. Kebanyakan mereka phobi bila mendengar kata "agama" penuh aturan ini dan itu. Hal ini karena mereka lebih senang hidup ”semau gue" tanpa ikatan apapun. Jelas ini adalah pikiran yang harus diluruskan, karena dengan tuntunan syariat Islam, seseorang dapat selamat dunia dan akhiratnya.

Ketahuilah wahai para remaja bahwa Islam telah menetapkan tuntunan hidup manusia dalam Qur'an dan Sunnah Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam.

Bila kita berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam, sebagaimana yang dipakai oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam dan para shahabatnya maka kita tidak akan tersesat. Ini sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam:

"Aku tinggalkan untuk kalian, yang jika kalian berpegang teguh dengannya, kalian tidak akan sesat yaitu Kitabullah dan Sunnahku ". (HR. Malik dan Hakim)

Setiap diri kita tentu mendambakan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Untuk itu kita harus menyadari bahwa segala kesenangan dunia yang melalaikan hanyalah fatamorgana, itulah kesenangan yang memperdayakan. Allah Ta'ala berfirman :

"Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan". (QS. Ali Imron:185)

Sudah saatnya kita semua mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan akhirat. Diantaranya adalah dengan mempelajari ilmu dien ini. Karena dengan ilmulah seseorang dapat mengetahui mana al-haq dan mana al-batil. Dan hanya orang-orang yang berilmulah yang mengetahui bahwa apa yang datang dari Allah itulah al-haq, sebagaiman firman-Nya :

"Dan orang-orang yang diberi ilmu berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji ". (QS. Saba: 6).

Islam juga telah mewajibkan setiap muslim atau muslimah yang mukallaf (aqil dan baligh) untuk menuntut ilmu dien, sebagaimana hadits dari Anas bin Malik, Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam bersabda:

Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim ".(HR. An-Nasa'i, hadits Hasan)

Dengan ilmu seseorang akan berjalan diatas jalan yang terang. Ia akan mengetahui bagaimana ia harus beribadah kepada Allah, bagaimana syariat Islam, apa yang halal dan yang haram. Dengan ilmu pula dapat tersinari hati seseorang dengan cahaya keimanan, karena ilmu adalah obat kebodohan, cahaya yang menyingkap kegelapan hati dan menghasilkan rasa takut pada Allah. Sebagaimana firman Allah :

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu ". (QS. Faathir : 28)

Setelah kita mengetahui betapa pentingmya ilmu syar'i, maka haruskah kita terus menerus tenggelam dalam bacaan-bacaan atau tontonan sia-sia yang hanya menghabiskan waktu saja ?!. Kini, kita tinggalkan perbuatan sia-sia dan kita mulai raih manfaat dengan mengkaji Al-Qur'an, hadits-hadits Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam, kitab-kitab para ulama, hadir di majelis-majelis ilmu, atau mendengarkan kaset-kaset ceramah yang membimbing kita pada jalan yang lurus sebagaimana yang ditempuh oleh salafus sholeh. Jelas ini baik untuk kita dan tidak akan membuang-buang waktu !


Perhatikanlah!!!

Bila muslimah terus-menerus ikut-ikutan menjadi korban berbagai media informasi tersebut, maka segala kerusakan yang kini terjadi akan terus terjadi atau bahkan akan bertambah besar.

Sebagian besar produk yang diperdagangkan dalam berbagai media tersebut menggunakan jasa wanita sebagai pelaris. Gambar-gambar wanita yang terbuka auratnya dan memamerkan kecantikan memenuhi lembaran-lembaran majalah atau koran. Subhanallah, sampai kapan akan kau jual dirimu wahai wanita.

Kini kita buka hati untuk memperhatikan apa yang disabdakan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam. Dari Usamah bin Zaid , beliau bersabda :

"Tiada kutinggalkan sesudahku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi lelaki dari fitnah perempuan " (Muttafaq'alaih).

Ingatlah hal ini bahwa fitnah yang paling besar bagi laki-laki adalah wanita. Wahai para wanita yang menjual dirinya, yang tenggelam dalam dunianya. Coba tanya pada dirimu, sudahkah engkau dapatkan ketenangan dengan apa yang engkau lakukan ? Hanya dengan tumpukan rupiah dan popularitas, sudahkah dirimu bahagia ? Bila mau jujur, tentu hati kecilmu menyatakan tidak, sebab dunia telah kau letakkan dihatimu, sehingga engkau tidak pernah puas dengan apa yang sudah kau peroleh. Kalaupun engkau dapatkan kesenangan, itu hanyalah kesenangan dunia yang semu, yang akan hilang seiring menghilangnya ruh dari badan. Anas Radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam bersabda:

"Yang mengikuti mayit itu tiga : keluarga, harta kekayaan, dan amal perbuatannya. Maka kembali yang dua yaitu keluarga dan kekayaan hartanya dan tinggal satu yang tetap yaitu amal perbuatannya". (Muttafaq'alaih)

Kini, waspadalah terhadap serangan media informasi tersebut, karena mereka akan merusak dirimu, menyibukkan dirimu dengan amalan sia¬-sia, bahkan menjerumuskanmu pada perbuatan yang Allah haramkan.

Hendaklah kita takut pada Allah karena wanita mempunyai peluang lebih besar untuk menjadi penghuni neraka. Ibnu Abbas dan Imron bin Hushain Radhiyallahu ‘anhum berkata Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam telah bersabda:

"Aku melihat ke surga, maka aku melihat kebanyakan penghuninya orang-orang fakir, dan aku melihat ke neraka, maka aku melihat kebanyakan penghuninya wanita ". (Muttafaq'alaih)

Demikianlah wahai muslimah, sebelum ruh sampai ditenggorokan, pintu taubat masih terbuka untuk kita dan belum ada kata terlambat untuk mulai memperbaiki diri Oleh karena itu kita harus segera mempersiapkan hidup kita untuk akhirat dan tidak terus menerus tenggelam dalam kehidupan yang fana ini. Allahu a'lam.

oleh : Abu Anisah Al-Humairah
Penulis : Ukhtukunna fillah, Ummu Abdillah binti Mursyid
Sumber : Risalah Dakwah Al Atsari, Cileungsi Edisi 13/1420 H Th. 2
URL -> http://darussalaf.or.id/stories.php?id=199

baca seterusnya ....

Senin, 11 Januari 2010

Tafakur

Didalam AlQur’an banyak ayat yang memerintahkan manusia untuk tafakur dan tadabbur. Allah Swt. berfirman,

(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri dan duduk dan dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan(bertafakur)tentang penciptaan langit dan bumi, seraya berkata : Wahai Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia.” (QS. Ali Imran:191)


Juga difirmankan :

Dan pada dirimu sendiri, mengapa tidak kalian perhatikan ? (QS.Adz Dzariyah:21)

Diceritakan, Ubaid bin Umar, beliau berkata kepada A’isyah ra. terangkanlah kepada kami, sesuatu yang menakjubkan yang engkau dapati dari Rasulullah Saw. Aisah ra. berkata, Setiap perbuatan Rosululloh amatlah menakjubkan. Pernah beliau datang kepadaku pada malam giliranku. Beliau bersabda, Wahai A’isyah, biarkanlah malam ini aku beribadah kepada Tuhanku.(Sebenarnya Aisyah lebih senang Rasulullah Saw ada disampingnya,Tapi ia tidak keberatan meluluskan permintaan beliau). Maka bangunlah Rasulullah Saw. dari tempat tidurnya lalu mengambil wudhu untuk mengerjakan salat. Di waktu salat beliau menangis hingga membasahi janggutnya, dan ketika sujud air matanya sampai meleleh ke bumi. Kemudian beliau berbaring di atas lambungnya, sampai kemudian datanglah Bilal mengumandangkan adzan untuk salat Shubuh. Ketika mendapati Rasulullah menangis, Bilal bertannya : Wahai Rasulullah, mengapa engkau menangis, padahal Allah telah mengampuni segala dosamu baik yang terdahulu maupun yang akan datang. Nabi Saw bersabda:Kasihan engkau wahai Bilal, Apa yang menghalangiku menangis? Malam ini Allah menurunkan kepadaku ayat: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”(Ali Imran:190). Selanjutnya beliau bersabda: “Alangkah rugi dan celaka nya orang yang membaca ayat ini, tetapi tidak bertafakur (merenungkan ) kandungan artinya.”

Karena itulah, maka bila datang waktu fajar dan setelah menunaikan salat subuh, seyogyanya seseorang banyak berzikir serta mengosongkan hatinya untuk bertafakur dan bermusabaha. Sebab dengan berzikir akan menambah kasih, dan dengan tafakur akan menambah rasa syukur serta akan mendatangkan rasa takut dan harap, sabar dan khusu’, cinta dan rindu dan lain-lainnya. Apalagi ber-tafakur mengenai akhirat niscaya akan mendatangkan hikmah yang tinggi dan menghidupkan hati. Oleh karena itu hendaknya seorang mu’min bertafakur tiap hari dengan hatinya guna mendekatkan diri kepada Allah.

Dan tafakur seseorang akan mengusahakan hati dan akal pikirannya selalu sadar, sehingga akan menuntunya menuju cita-cita yang mulia,yaitu mencari ridha Allah Swt. juga dengan tafakur seseorang akan dapat memasuki lapangan pemikiran tentang ciptaan Allah yang mengagumkan, atau tentang alam barzakh, akhirat dan semua hal yang berdemensi spiritual. Lebih-lebih tafakur yang disertai dengan uzlah, ia akan mendorong diri seorang abid ke arah pembersihan hati dari berbagai akhlak buruk untuk menuju kepada akhlak yang baik dan perilaku yang terpuji. Ia akan selalu menjadi penasehat yang jujur bagi diri setiap mukmin supaya hati dan akalnya tidak tertipu oleh hawa nafsu. Banyak hal dapatv direnungkan sebagai bahan tafakur,dan juga banyak waktu dapat digunakan untuk ber-tafakur.Di antara waktu yang tepat untuk melakukan dialoq batin melelui tafakur ialah sehabis melakukan salat,baik salat fardhu atau salat sunnah terutama tahajud. Selain itu dialoq dengan hati nurani sehabis salat itu akan lebih afdhal bila disertai dengan bertobat,mengakui kesalahan dan dosa-dosa dihadapan Allah Swt.Sedangkan di antara obyek tafakur yang disenangi oleh orang-orang alim dan ahli tafakur (ulil Albab ) adalah kejadian langit dan bumi sebagaimana disebutkan ayat diatas.

Bagi golongan ulil albab alam semesta ini merupakan suatu karya maha besar,sebuah ciptaan yang sempurna ,yang siapa pun merenungkannya pasti akan melihat bahwa Allah lah penciptanya.Begitu juga dunia berikut segala isinya, macam-macam kehidupan, kematian, kebahagiaan, kesedihan, semua merupakan daya tarik bagi mereka untuk ber-tafakur. Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: ”Bahwa suatu kaum bertafakur tentang Allah, lalu nabiSaw. bersabda:
“Bertafakurlah tentang makhluk Allah, dan janganlah bertafakur tentang Allah. Sesungguhnya kamu tiada akan dapat mengkadarkan akan kadar Allah.”(HR.Abu Nu’main)
baca seterusnya ....

Senin, 04 Januari 2010

Renungan Mengenai Pemutus Kenikmatan

WASIAT UMAR BIN DZAR TENTANG RENUNGAN MENGENAI PEMUTUS KENIKMATAN

Oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied Al-Hilali

Dari Nadhar bin Ismail yang berkata: Saya pernah mendengar Umar bin Dzar [1] berkata:

Kamu sekalian telah cukup mengerti tentang kematian, maka kamu menunggu-nunggu kedatangannya siang dan malam.

Mungkin kamu meninggal sebagai seorang yang sangat dicintai oleh keluarganya, dihormati oleh kerabatnya, dan dipatuhi oleh masyarakatnya, dipindahkan keliang yang kering dan batu-batu cadas yang bisu. Tidak ada seorangpun dari keluarga yang bisa memberikan bantal, kecuali hanya menempatkannya di tengah kerumunan binatang serangga. Adapun bantal pada saat itu berupa amal perbuatannya.


Atau mungkin kamu meninggal sebagai orang yang malang dan terasing. Di dunia, ia telah ditimpa banyak kesedihan, usaha yang dilakukan sudah berkepanjangan, badan telah kepayahan, lantas kematian tiba-tiba menjemput sebelum ia meraih keinginannya.

Atau mungkin kamu adalah seorang anak yang masih disusui, orang yang sakit, atau orang yang tergadai dan tergila-gila dengan kejahatan. Mereka semua diundi dengan anak panah kematian.

Tidak adakah pelajaran yang bisa dipetik dari perkataan para juru nasihat?!

Sungguh, seringkali saya berkata: "Maha Suci Allah Jalla Jalaluhu. Dia telah memberi tempo kepada kamu sehingga seakan-akan menjadikan kamu lalai." Kemudian saya kembali melihat kepemaafan dan kekuasaan-Nya, lantas berkata: "Tidak, tetapi Dia mengakhirkan kita sampai pada batas ajal kita, sampai pada hari di mana mata menjadi terbelalak dan hati menjadi kering."

"Artinya : Mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong." [Ibrahim : 43]

"Ya Rabbi, Engkau telah memberikan peringatan, maka hujjah-Mu telah tegak atas hamba-hamba-Mu”

Kemudian ia membaca:

"Artinya : Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang adzab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zhalim: "Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit." [Ibrahim : 44]

Kemudian ia berkata:

"Wahai pelaku kezhaliman! Sesungguhnya kamu sedang berada dalam masa penangguhan yang kamu minta itu, maka manfaatkanlah sebelum akhir masa itu tiba dan bersegeralah sebelum berlalu. Batas akhir penangguhan adalah ketika kamu menemui ajal, saat sang maut datang. Ketika itu tidak berguna lagi penyesalan.

Anak Adam ibarat papan yang dipasang sebagai sasaran dari panah kematian. Siapa yang dipanah dengan anak panah-anak panahnya, tidak akan meleset. Dan bila kematian itu telah menginginkan seseorang, maka tidak akan menimpa yang lain.

Ketahuilah, sesungguhnya kebaikan yang paling besar adalah kebaikan di akhirat yang abadi dan tidak berakhir, yang kekal dan tidak fana, yang terus berlanjut dan tak kenal putus.

Hamba-hamba yang dimuliakan bertempat tinggal di sisi Allah Ta'ala di tengah segala hal yang menyenangkan diri dan menyejukkan pandangan. Mereka saling mengunjungi, bertemu, dan bernostalgia tentang hari-hari mereka hidup di dunia.

Tentramlah kehidupan mereka. Mereka telah memperoleh apa yang mereka inginkan dan meraih apa yang mereka cari, karena keinginan mereka adalah berjumpa dengan majikan Yang Maha Pemurah dan Maha Pemberi Anugerah. [2]


[Disalin ulang dari: "Wasiat Para Salaf", Penulis Syaikh Salim bin 'Ied Al Hilali, Penerjemah: Hawin Murtadho. Penerbit: At-Tibyan, Solo. Cetakan kedua: Juli 2000 M, hal.111-114]
_________
Foote Note
[1]. Dia adalah Umar bin Dzar biun Abdillah bin Zaraqah Al-Hamdani Al-Murhabi, seorang tabi'it tabi'in yang tsiqah, wafat pada tahun 135 H. Riwayat hidupnya ada dalam "Tahdzibut Tahdzib" (VII:144), "Hilyatul Auliya" (V:108) dan lain-lain
[2]. Dikeluarkan oleh Abu Nu'aim dalam 'Al-Hilyah' (V:115-116)
www.almanhaj.or.id
baca seterusnya ....

Minggu, 26 Oktober 2008

Memelihara Diri dari Api Neraka

Allah swt telah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim : 6)

“......... peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS Al Baqarah : 24)

Ayat di atas memperingatkan kita untuk memelihara diri dari api Neraka karena jika di akhirat nanti seseorang dimasukkan ke Nereka, maka tidak ada lagi jalan keselamatan dan tidak akan diterima segala macam tebusan. Suatu hari yang tiada berguna lagi harta benda dan anak cucu, kecuali orang yang menghadap Allah dengan membawa hati yang salim, selamat dari kemusyrikan, bid’ah dan aneka macam perbuatan dosa.

Sedikit Gambaran tentang Neraka

Dia adalah penjara yang penuh dengan siksaan yang pedih, jurang amat dalam yang di dalamnya berkobar api yang menyala dan bergejolak. Panasnya tujuh puluh kali lipat dibandingkan panas api yang ada di dunia saat ini, Nabi saw bersabda,

” Api yang biasa kalian nyalakan adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari api Jahannam.” (HR . Al-Bukhari)

Hawa paling panas yang ada di dunia ini tak lain adalah sedikit hembusan dari Neraka Jahannam. Sabda Nabi saw,

“Tunggulah hingga agak dingin untuk shalat (Zhuhur), karena panas yang berlebihan adalah sebagian dari hembusan Jahannam.” (HR. Al-Bukhari)

Berkata Ka’ab al-Akhbar, “Demi Dzat yang jiwa Ka’ab ada ditangan-Nya, andaikan engkau ada di ujung timur dan Neraka ada di ujung barat, kemudian Neraka itu di singkap, maka otak kalian akan ke luar meleleh dari kedua lobang hidung, karena panasnya yang dahsyat. Wahai manusia, apakah kalian merasa tentram dengan ini? Ataukah kalian akan mampu bersabar terhadapnya? Wahai manusia, berbuat taat kepada Allah lebih ringan bagi kalian dari pada menanggung siksa seperti ini, maka taatlah kalian semua kepada-Nya! (At-Tadzkirah fi ahwalil mauta wa umur al akhirah 2/145).

Tentang luasnya Neraka, Rasulullah Shallallaahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tahukah kalian apa ini? Kami semua menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui”. Beliau bersabda, “Ini adalah batu, jika dilemparkan ke dalam Neraka semenjak tujuh puluh tahun, maka ia masih melayang di Neraka sampai saat ini (belum menyentuh dasarnya, pent).”(HR. Muslim)

Api Neraka meyiksa manusia sesuai dengan tingkat dosa yang diperbuat. Sabda Nabi saw, “Sebagian orang ada yang dilalap api Neraka hingga kedua mata kakinya, sebagian lagi ada yang hingga kedua lututnya, sebagian lagi ada yang dilalap hingga pinggangnya dan ada juga yang disiksa hingga tengkuk lehernya.” (HR. Muslim)

Rasulullah saw juga telah bersabda, “Pada Hari Kiamat didatangkan penghuni neraka yakni seorang yang ketika di dunia mendapatkan kenikmatan paling besar, kemudian ia dicelupkan ke dalam Neraka sekali celupan lalu ditanya, “Wahai anak Adam adakah engkau masih melihat karunia yang tersisa? Apakah kini engkau merasakan sedikit kenikmatan? Maka ia menjawab, “Demi Allah tidak sama sekali wahai Rabb.” (HR Muslim)

Di antara Penghuni Neraka

1. Orang-orang musyrik, termasuk Yahudi, Nashrani, Majusi, mulhidin (pembangkang) dan secara umum semua orang yang menyekutukan Allah atau melakukan syirik akbar. Firman Allah Subhannaahu wa Ta’ala , artinya,

“Sesungguhnya telah kafirlah orang- orang yang berkata,”Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabbmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al Maidah : 72)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa : 48)

2. Sedangkan ahlul ma’shiyah (pelaku maksiat) dari orang muslim, maka dia di bawah kehendak Allah, jika menghendaki, maka Dia akan mengampuni dan jika menghendaki, maka Dia akan menyiksa.

Nabi saw bersabda tentang penghuni Neraka,
“Maukah kalian aku beritahu penduduk neraka? (Yaitu) Setiap orang yang besar kepala, angkuh lagi sombong.” (HR. Al-Bukhari-Muslim)

3. Nabi saw memberitahukan bahwa wanita yang bertabarruj (mengumbar aurat dan kecantikannya) termasuk penghuni Neraka. Sabda beliau Shallallaahu Alaihi wa Sallam,

“Ada dua golongan penghuni Neraka yang belum pernah aku lihat; Yaitu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, mereka memukuli orang-orang dengannya. Dan wanita-wanita yang memakai baju tapi telanjang, berjalan dengan menggoyang-goyangkan pundaknya dan berlenggak-lenggok. Kepala mereka seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk surga bahkan tidak akan mendapat wanginya, padahal sungguh wangi Surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR . Muslim)

4. Meninggalkan shalat, merupakan penyebab terjerumusnya seseorang masuk Neraka. Allah berfirman,

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (Neraka) Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya dan adalah kami mendustakan hari pembalasan” (QS. Al Mudatsir : 42 - 46)

Rasulullah Shallallaahu Alaihi wa Sallam juga bersabda,
“Perjanjian antara kita dengan mereka (orang kafir) adalah shalat, maka barang siapa meninggalkannya ia telah kafir.”

Rasulullah saw pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak menjerumuskan orang ke dalam Neraka, maka beliau menjawab, “Mulut dan Kemaluan.” (HR. At-Tirmidzi dan ia menyatakan hasan). Hadits ini mengisyaratkan kepada kita semua agar senantiasa menjaga dua anggota badan tersebut agar termasuk orang-orang yang selamat dari api Neraka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah menyebutkan sejumlah dosa secara global yang merupakan penyebab dari masuknya seseorang ke dalam Neraka, yaitu: Menyekutukan Allah Ta’ala; Mendustakan para rasul; hasad (dengki); Dusta; Khianat; Berbuat aniaya, kekejian; Ingkar janji; Memutuskan silaturrahmi; Pengecut dalam berjihad; Bakhil; Munafik; Berputus asa dari rahmat Allah; Merasa aman dari makar Allah; Berkeluh kesah terhadap musibah; Angkuh; Sombong atas nikmat yang diterima; Meninggalkan hal-hal yang wajib; Melanggar hudud (batasan dari Allah); Menerjang keharaman-Nya, takut kepada makhluk bukan kepada Allah; Beramal karena riya’ dan sum’ah; Menyelisihi Al-Qur’an dan as-Sunnah baik dalam perbuatan atau pun keyakinan; Taat kepada manusia dalam rangka maksiat kepada Allah; Fanatik terhadap kebatilan; Mengolok-olok ayat-ayat Allah, menentang kebenaran; Menyembunyikan sesuatu yang seharusnya disampaikan baik ilmu maupun kesaksian; Sihir; Durhaka kepada kedua orang tua; Membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali secara haq; Memakan harta anak yatim; Riba; Lari dari medan pertempuran; Menuduh berzina wanita baik-baik dan terjaga kehormatannya; Melakukan zina atau liwath; Ghibah dan namimah dan lain-lain yang telah di jelaskan keharamannya di dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah.

Barang siapa yang menjauhinya, maka berarti ia telah menempuh jalan keselamatan, dan barang siapa yang menerjangnya, maka berarti ia telah menjatuhkan dirinya ke dalam kehinaan dan penyesalan.


Cara Menyelamatkan Diri dari Neraka

Allah karena rahmat-Nya menjelaskan jalan-jalan keselamatan dari siksa Neraka. Allah menunjukkan jalan yang harus ditempuh agar seseorang tidak terjerumus ke dalamnya. Cara yang paling penting adalah sbb.

1. Memurnikan Tauhid kepada Allah

Mari kita perhatikan sabda Nabi saw berikut ini,
“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan “La ilaha illallah,” karena semata-mata mengharap wajah Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan dalam hadits yang lain Nabi saw juga telah bersabda,
“Allah berfirman :”Wahai anak Adam, sesungguhnya selagi kalian mau berdoa dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampunimu. Wahai anak Adam meskipun dosamu itu sampai ke awan di langit kemudian kamu mau minta ampun kepada-Ku maka aku akan mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam kalaupun engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi dan engkau menjumpai-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu, maka Aku akan mendatangkan kepadamu sepenuh bumi ampunan.” (HR. At-Tirmidzi dan dia berkata hadits hasan shahih).

Itulah jaminan ampunan bagi yang menauhidkan (mengesakan-Nya). Tidak menyekutukan-Nya dalam ber-do’a, ibadah, nadzar, raja’ (berharap), istighatsah, tawakkal, pengharapan dan ketakutan, juga di dalam memutuskan perkara, padahal ia tahu akan tuntutan tauhid berupa mengesakan Allah dalam seluruh ibadah serta menjauhi segala kemusyrikan dengan berbagai macam dan bentuknya.

Allah swt telah berfirman,
Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al Anam : 162-163)

Maka tauhid yang murni yang tidak tercampuri dengan kemusyrikan, baik yang besar maupun yang kecil adalah syarat mutlak untuk keselamatan seseorang dari Neraka.
Tauhid yang murni membuahkan ketaatan kepada Allah dan ketundukan terhadap-Nya. Karena tauhid dan iman tempatnya di hati. Apabila tauhidnya bagus, maka seluruh perbuatan anggota badan akan ikut bagus pula. Maka apa yang diperintahkan oleh Allah akan segera dilaksanakannya, selalu taat, mengikuti dan takut kepada-Nya.

2. Senantiasa Bertaubat

Allah telah menjadikan taubat sebagai kunci kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Dia berfirman,

“...... Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An Nur : 31)

Dalam ayat ini Allah mengaitkan antara keberuntungan dengan taubat. Artinya bertaubat dari perbuatan yang tidak baik adalah salah satu jalan keselamatan dari api Neraka. Manusia meskipun telah berusaha sekuat tenaga untuk berbuat kebaikan, tetap saja ia memiliki sisi kekurangan dan kelemahan, baik yang disadari atau tidak, hal ini merupakan sunnatullah. Maka jalan yang terbaik adalah selalu membiasakan bertaubat dan mohon ampun kepada Allah.

Sumber bacaan : Kutaib, “Kaila Tuhsyaru fil Jahim” al-Qism al-Ilmi Darul Wathan
baca seterusnya ....

Senin, 29 September 2008

Wajah-wajah yang Bercahaya di Hari Kiamat

Wudhu adalah syariat Allah yang sering kita lakukan walaupun tata caranya sangat ringkas dan praktis, tetapi di dalamnya mengandung faedah yang besar. Kelak di hari kiamat Rasulullah akan mengenali umatnya dari bekas wudhu yang terpancar dari wajah dan telapak tangannya, pada hari itu pula orang-orang kafir tertunduk sesal dengan wajah yang hitam legam.

Allah berfirman di dalam Al Qur’an :

“Pada hari (kiamat) yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu. Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.” (QS. Ali Imron : 106-107)

Rasulullah mengenali umatnya yang putih berseri karena mereka selalu menjaga wudhu. Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori.

"Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat nanti dalam keadaan dahi dan kedua tangan dan kaki mereka bercahaya, karena bekas wudhu." (HR Bukhori).

"Tahukah kalian bila seseorang memiliki kuda yang berwarna putih pada dahi dan kakinya di antara kuda-kuda yang berwarna hitam, yang tidak ada warna selainnya, bukankah Ia akan mengenali kudanya? Para sahabat menjawab, Tentu Ya Rasulullah, Rasulullah kemudian bersabda, Umatku nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi, kedua tangan dan kaki karena bekas wudhu mereka."(HR Muslim)

Berwudhu selain membersihkan anggota tubuh kita dari hadast kecil, tetapi juga melarutkan dosa-dosa kecil yang telah kita lakukan, Rasulullah SAW bersabda :

"Begitu seseorang berwudhu misalkan pada urutan pertama berkumur dan menghirup air, kemudian mengeluarkannya dari hidungnya melainkan keluar semua dosa-dosa dari mulut dan hidung. Kemudian jika ia membasuh mukanya menurut apa yang diperintahkan Allah, jatuhlah dosa-dosa mukanya dari ujung jenggotnya bersama tetesan air. Kemudian bila membasuh kedua tangan sampai kedua siku, jatuhlah dosa-dosa dari ujung jari-jarinya bersama tetesan air. Kemudian mengusap kepala maka jatuh semua dosa dari ujung rambut bersama tetesan air, kemudian membasuh dua kaki sampai ke mata kaki, maka jatuhlah semua dosa kakinya dari ujung jari bersama tetesan air. Maka bila ia shalat sambil memuja dan memuji Allah menurut lazimnya, dan membersihkan hati dari segala sesuatu selain Allah, maka keluar dari semua dosanya bagaikan lahir dari perut ibunya" (HR Muslim).

Kita sebagai umat Rasulullah merindukan kelak kita disapa Beliau di Hari Kiamat, hal itu bisa kita lakukan dengan menjaga wudhu atau membiasakan wudhu, tak hanya ketika akan shalat saja, tetapi dalam beberapa aktivitas ibadah seperti ketika hendak menuju masjid, ketika menyentuh mushaf Al Qur'an, ataupun ketika berangkat tidur. Para alim ulama selalu menjaga wudhu apabila batal, hal ini untuk menjaga kesuciannya dan zikirnya kepadaAllah.

Sumber bacaan : Majalah Qonsis
baca seterusnya ....

Jumat, 26 September 2008

Bukan Sekedar LIDAH

Pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid, hidup seorang ulama bernama Abdullah bin Abdul Aziz Al-Amri. Di samping sebagai ulama, beliau juga seorang abid yang banyak sujud kepada Allah SWT. Namun ibadahnya yang banyak itu, tidak mendorong niat beliau untuk ber’uzlah (mengasingkan diri) dari masyarakat. Bahkan beliau termasuk da’i pemberani dalam menegakkan amar ma’ruf dan nahyu munkar.

Alkisah, ketika Khalifah Harun Al-Rasyid sedang melakukan ibadah haji, sebagaimana lazimnya penguasa sekarang, seluruh tempat yang akan dilaluinya ditutup untuk umum. Pada saat Khalifah sedang melakukan sa'i (lari kecil) antara Shafa dan Marwah seorang diri, sambil disaksikan ribuan jamaah haji, berkatalah salah seorang dari mereka kepada ulama tadi, "Hai tuan guru, apakah boleh seorang khalifah mencegah rakyatnya beribadah kepada Allah?” Ulama itu menjawab, “Apakah kamu ingin agar aku mencegah kezaliman ini padahal kamu tidak berani melakukannya? Orang yang tidak mampu membela kebenaran adalah syetan bisu”.
Selanjutnya berangkatlah Abdullah Al-Amri ke tempat sa'i, sesampainya di dekat Shafa, kebetulan saat itu khalifah baru saja tiba di sana, berteriaklah beliau, “Haruuun ….! (tanpa menyebut jabatan khalifah). Mendengar jeritan tadi, seluruh jamaah haji –termasuk khalifah– menghadapkan wajahnya ke arah datangnya suara. Setelah khalifah tahu siapa yang memanggilnya, segera beliau menjawab, “Labbaika ya' amin.”
“Naiklah ke bukit Shafa! Lihatlah ke Ka'bah, berapakah jumlah manusia di sana?” Tanya sang ulama. “Tidak ada yang bisa menghitungnya kecuali Allah,” jawab khalifah. “Ketahuilah, setiap orang dari mereka akan diminta pertanggungjawabanmu oleh Allah atas dirimu dan seluruh rakyatmu. Lihatlah kepada dirimu! Apakah pantas engkau perlakukan umat seperti ini?” Mendengar ucapan ulama tersebut, menangislah khalifah seraya mengakui kesalahannya yang beliau lakukan.

Dari kisah di atas, dapat diambil pelajaran betapa lidah itu mempunyai peran yang sangat penting dalam menegakkan Al-Haq. Dan benarlah pepatah “Lidah lebih tajam dari pedang”. Allah SWT juga memuji orang-orang yang mengaktifkan lidahnya untuk berda'wah.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang-orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh dan berkata “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri”. (Q.S 41:33)

Sebagai salah satu sarana amar ma'ruf nahyu munkar, lidah telah terbukti keampuhannya sejak dimulainya dakwah Islam oleh Rasulullah SAW. Dia ampuh untuk mengajak kepada kebaikan, juga untuk mencegah kemungkaran dan kebatilan. Sejarah telah mencatat betapa seorang nenek tua berani menegur Umar bin Khathab yang sedang berpidato di atas mimbar, karena kekeliruan khalifah dalam masalah mas kawin. Juga ketika khalifah Umar baru saja diangkat menjadi pemimpin umat, Beliau berpidato di atas mimbar, seraya berkata, “Hai manusia, apakah yang akan kalian kerjakan jika aku menyimpang dalam memimpin umat?” Kami akan luruskan penyimpangan Anda dengan pedang kami”. Inilah contoh dari keberanian umat dalam menegakkan Al-Haq.

Pada saat lidah menjadi tumpul, banyak sekali kerusakan dan kemungkaran yang ditimbulkan oleh masyarakat dan kalau kemungkaran sudah dominan, pembela Al-Haq tak akan berharga lagi. Orang-orang jujur menjadi hina. Masyarakat lebih cenderung kepada maksiat, dan kebenaran hanya menjadi permainan lidah. Yang muda durhaka dan yang tua bergelimang dosa.
Alquran hanya sebagai nyanyian dan ulama penuh dengan kemunafikan. Yang kecil tidak menghormati yang besar dan yang kaya tidak mengasihi yang miskin. Pada saat itu ilmu dikuasai orang-orang bejat dan kekuasaan dipegang oleh orang-orang tamak. Kalau yang demikian itu sudah terjadi, mungkin laknat Allah yang akan tiba sebagaimana yang terjadi pada Bani Israel dahulu.

Firman Allah:
Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka selalu durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu." (QS 5:78-79).

Dalam kaitan ayat di atas, Ustadz Sayyid Qutb menulis dalam tafsir Zhilalnya, ”Manhaj Islami menghendaki agar jamaah muslimah memiliki eksistensi yang hidup dan kokoh. Ia harus mampu menolak berbagai bentuk penyimpangan dan kemaksiatan sebelum menjadi fenomena umum di masyarakat. Ia harus kokoh membela Al-Haq dan peka terhadap gejala-gejala kebatilan. Sebagaimana manhaj tadi juga menghendaki kepada tokoh masyarakat dan agama agar melaksanakan amanah yang dibebankan dan mampu menghadapi berbagai bentuk kejahatan, kerusakan dan kezaliman, tanpa sedikit pun dihantui rasa takut kepada penguasa, kaum elit danlih berganti dengan segala kezaliman dan kebiadabannya. Sayangnya, sejarah terkadang sepi dari tokoh-tokoh Al-Haq yang akan mengimbangi bahkan mengalahkan kebatilan tersebut. Kalau dulu, ketika terjadi riddah (keluar dari agama) ada Abu Bakar Shiddiq, siapakah tokoh yang diharapkan menghadapi pemurtadan masa kini? Rasanya setiap muslim sekarang ini harus mengasahi lidahnya, agar tidak tumpul ketika menyaksikan kebenaran dikebiri dan kebatilan disanjung-sanjung."
baca seterusnya ....

Sepuluh Wasiat

Bacalah-Renungilah-Kemudian Terus Beramal
oleh Asy-Syahid Al Imam Hasan Al Bana


Apabila saudara mendengar azan, maka bangunlah bersholat dengan segera, walau bagaimana keadaan sekalipun.

Bacalah Al Quran atau tatapilah buku-buku atau pergilah mendengar perkara-perkara yang baik ataupun amalkanlah zikrullah dan jangan sama sekali saudara membuang masa walau sedikit pun dalam perkara yang tidak berfaedah.

Berusahalah seberapa daya-upaya untuk bertutur dalam bahasa Arab yang betul karena bahasa Arab yang betul adalah satu-satunya syiar Islam.

Janganlah banyak bertengkar dalam suatu perkara karena pertengkaran kosong itu tidak memberi sedikit pun kebaikan.

Janganlah banyak ketawa karena hati yang sentiasa berhubung dengan Allah itu sentiasa tenang lagi tentram.

Janganlah bergurau karena umat yang sedang berjuang itu tidak mengerti melainkan bersungguh-sungguh dalam setiap perkara.

Janganlah saudara bercakap lebih nyaring daripada kadar yang dikehendaki oleh pendengaran karena percakapan yang nyaring begitu adalah suatu sifat yang sia-sia malah menyakiti hati orang.

Jauhilah dari mengumpat-ngumpat pribadi orang dan juga jauhilah dari mengecam cacat orang lain dan jangan bercakap melainkan apa-apa yang boleh memberi kebajikan.

Berkenal-kenallah dengan tiap-tiap saudara Muslimin yang saudara bertemu dengannya sekalipun ia tidak meminta saudara berkenalan karena asas gerakan Dakwah ialah kasih-sayang dan silaturahmi

Kewajiban-kewajiban kita lebih banyak daripada masa yang ada pada kita, oleh itu bantulah saudaramu sendiri tentang cara-cara bagaimana hendak menggunakan masa dengan berfaedah dan jika saudara mempunyai tugas sendiri maka ringkaskanlah pelaksanaannya.
baca seterusnya ....