Meluruskan Aqidah Sesuai Al Qur'an dan As Sunnah

Sabtu, 30 Januari 2010

Hukum FACEBOOK

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.

Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala. Belakangan ini di antara kita pernah mendengar fatwa haramnya Facebook, sebuah layanan pertemanan di dunia maya yang hampir serupa dengan Friendster dan layanan pertemanan lainnya. Banyak yang bingung dalam menyikapi fatwa semacam ini. Namun, bagi orang yang diberi anugerah ilmu oleh Allah tentu tidak akan bingung mengenai fatwa tersebut.

Dalam tulisan yang singkat ini, dengan izin dan pertolongan Allah kami akan membahas tema yang cukup menarik ini, yang sempat membuat sebagian orang kaget. Tetapi sebelumnya, ada beberapa preface yang akan kami kemukakan.Semoga Allah memudahkannya.


Dua Kaedah yang Mesti Diperhatikan

Saudaraku, yang semoga selalu mendapatkan taufik dan hidayah Allah Ta’ala. Dari hasil penelitian dari Al Qur’an dan As Sunnah, para ulama membuat dua kaedah ushul fiqih berikut ini:

Hukum asal untuk perkara ibadah adalah terlarang dan tidaklah disyari’atkan sampai Allah dan Rasul-Nya mensyari’atkan.

Sebaliknya, hukum asal untuk perkara ‘aadat (non ibadah) adalah dibolehkan dan tidak diharamkan sampai Allah dan Rasul-Nya melarangnya.

Apa yang dimaksud dua kaedah di atas?

Untuk kaedah pertama yaitu hukum asal setiap perkara ibadah adalah terlarang sampai ada dalil yang mensyariatkannya. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa ibadah adalah sesuatu yang diperintahkan atau dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang memerintahkan atau menganjurkan suatu amalan yang tidak ditunjukkan oleh Al Qur’an dan hadits, maka orang seperti ini berarti telah mengada-ada dalam beragama (baca: berbuat bid’ah). Amalan yang dilakukan oleh orang semacam ini pun tertolak karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

Namun, untuk perkara ‘aadat (non ibadah) seperti makanan, minuman, pakaian, pekerjaan, dan
mu’amalat, hukum asalnya adalah diperbolehkan kecuali jika ada dalil yang mengharamkannya.
Dalil untuk kaedah kedua ini adalah firman Allah Ta’ala,

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu”. (QS. Al Baqarah: 29).

Maksudnya, adalah Allah menciptakan segala yang ada di muka bumi ini untuk dimanfaatkan. Itu berarti diperbolehkan selama tidak dilarangkan oleh syari’at dan tidak mendatangkan bahaya.

Allah Ta’ala juga berfirman,

“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat .” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Al A’raaf: 32).

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengingkari siapa saja yang mengharamkan makanan, minuman, pakaian, dan semacamnya. Jadi, jika ada yang menanyakan mengenai hukum makanan “tahu”? Apa hukumnya? Maka jawabannya adalah “tahu” itu halal dan diperbolehkan. Jika ada yang menanyakan lagi mengenai hukum minuman “Coca-cola”? Apa hukumnya? Maka jawabannya juga sama yaitu halal dan diperbolehkan. Begitu pula jika ada yang menanyakan mengenai jual beli laptop? Apa hukumnya? Jawabannya adalah halal dan diperbolehkan.
Jadi, untuk perkara non ibadah seperti tadi, hukum asalnya adalah halal dan diperbolehkan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Makan bangkai menjadi haram, karena dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Begitu pula pakaian sutra bagi laki-laki diharamkan karena ada dalil yang menunjukkan demikian. Namun asalnya untuk perkara non ibadah adalah halal dan diperbolehkan.

Oleh karena itu, jika ada yang menanyakan pada kami bagaimana hukum Facebook? Maka kami jawab bahwa hukum asal Facebook adalah sebagaimana handphone, email, blog, internet, radio, dan alat-alat teknologi lainnya yaitu sama-sama mubah dan diperbolehkan.

Hukum Sarana sama dengan Hukum Tujuan

Perkara mubah (yang dibolehkan) itu ada dua macam. Ada perkara mubah yang dibolehkan dilihat dari dzatnya dan ada pula perkara mubah yang menjadi wasilah (perantara) kepada sesuatu yang diperintahkan atau sesuatu yang dilarang.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di –rahimahullah- mengatakan,“Perkara mubah dibolehkan dan diizinkan oleh syari’at untuk dilakukan. Namun, perkara mubah itu dapat pula mengantarkan kepada hal-hal yang baik maka dia dikelompokkan dalam hal-hal yang diperintahkan. Perkara mubah terkadang pula mengantarkan pada hal yang jelek, maka dia dikelompokkan dalam hal-hal yang dilarang.
Inilah landasan yang harus diketahui setiap muslim bahwa hukum sarana sama dengan hukum tujuan (al wasa-il laha hukmul maqhosid).”

Maksud perkataan beliau di atas:
Apabila perkara mubah tersebut mengantarkan pada kebaikan, maka perkara mubah tersebut diperintahkan, baik dengan perintah yang wajib atau pun yang sunnah. Orang yang melakukan mubah seperti ini akan diberi ganjaran sesuai dengan niatnya. Misalnya : Tidur adalah suatu hal yang mubah. Namun, jika tidur itu bisa membantu dalam melakukan ketaatan pada Allah atau bisa membantu dalam mencari rizki, maka tidur tersebut menjadi mustahab (dianjurkan/disunnahkan) dan akan diberi ganjaran jika diniatkan untuk mendapatkan ganjaran di sisi Allah.

Begitu pula jika perkara mubah dapat mengantarkan pada sesuatu yang dilarang, maka hukumnya pun menjadi terlarang, baik dengan larangan haram maupun makruh. Misalnya : Terlarang menjual barang yang sebenarnya mubah namun nantinya akan digunakan untuk maksiat. Seperti menjual anggur untuk dijadikan khomr.
Contoh lainnya adalah makan dan minum dari yang thoyib dan mubah, namun secara berlebihan
sampai merusak sistem pencernaan, maka ini sebaiknya ditinggalkan (makruh).
Bersenda gurau atau guyon juga asalnya adalah mubah. Sebagian ulama mengatakan, “Canda itu
bagaikan garam untuk makanan. Jika terlalu banyak tidak enak, terlalu sedikit juga tidak enak.” Jadi, jika guyon tersebut sampai melalaikan dari perkara yang wajib seperti shalat atau mengganggu orang lain, maka guyon seperti ini menjadi terlarang.

Oleh karena itu, jika sudah ditetapkan hukum pada tujuan, maka sarana (perantara) menuju tujuan tadi akan memiliki hukum yang sama. Perantara pada sesuatu yang diperintahkan, maka
perantara tersebut diperintahkan. Begitu pula perantara pada sesuatu yang dilarang, maka perantara tersebut dilarang pula. Misalnya tujuan tersebut wajib, maka sarana yang mengantarkan kepada yang wajib ini ikut menjadi wajib.
Contohnya : Menunaikan shalat lima waktu adalah sebagai tujuan. Dan berjalan ke tempat shalat (masjid) adalah wasilah (perantara). Maka karena tujuan tadi wajib, maka wasilah di sini juga ikut menjadi wajib. Ini berlaku untuk perkara sunnah dan seterusnya.

Intinya, Hukum Facebook adalah Tergantung Pemanfaatannya

Jadi intinya, hukum facebook adalah tergantung pemanfaatannya. Kalau pemanfaatannya adalah untuk perkara yang sia-sia dan tidak bermanfaat, maka facebook pun bernilai sia-sia dan hanya membuang-buang waktu. Begitu pula jika facebook digunakan untuk perkara yang haram, maka hukumnya pun menjadi haram. Hal ini semua termasuk dalam kaedah “al wasa-il laha hukmul maqhosid (hukum sarana sama dengan hukum tujuan).” Di bawah kaedah ini terdapat kaedah derivat atau turunan yaitu:
  1. Maa laa yatimmul wajibu illah bihi fa huwa wajib (Suatu yang wajib yang tidak sempurna kecuali dengan sarana ini, maka sarana ini menjadi wajib)
  2. Maa laa yatimmul masnun illah bihi fa huwa masnun (Suatu yang sunnah yang tidak sempurna kecuali dengan sarana ini, maka sarana ini menjadi wajib)
  3. Maa yatawaqqoful haromu ‘alaihi fa huwa haromun (Suatu yang bisa menyebabkan terjerumus pada yang haram, maka sarana menuju yang haram tersebut menjadi haram)
  4. Wasail makruh makruhatun (Perantara kepada perkara yang makruh juga dinilah makruh)Maka lihatlah kaedah derivat yang ketiga di atas. Intinya, jika facebook digunakan untuk yang haram dan sia-sia, maka facebook menjadi haram dan terlarang.

Kita dapat melihat bahwa tidak sedikit di antara pengguna facebook yang melakukan hubungan gelap di luar nikah di dunia maya. Padahal lawan jenis yang diajak berhubungan bukanlah mahram dan bukan istri. Sungguh, banyak terjadi perselingkuhan karena kasus semacam ini.
Jika memang facebook banyak digunakan untuk tujuan-tujuan seperti ini, maka sungguh kami katakan, “Hukum facebook sebagaimana hukum pemanfaatannya. Kalau dimanfaatkan untuk yang haram, maka facebook pun menjadi haram.”

Waktu yang Sia-sia Di Depan Facebook

Saudaraku, inilah yang kami ingatkan untuk para pengguna facebook. Ingatlah waktumu! Kebanyakan orang betah berjam-jam di depan facebook, bisa sampai 5 jam bahkan seharian, namun mereka begitu tidak betah di depan Al Qur’an dan majelis ilmu. Sungguh, ini yang kami sayangkan bagi saudara-saudaraku yang begitu gandrung dengan facebook. Oleh karena itu, sadarlah!!

Beberapa nasehat ulama tentang waktu dan hidupmu


Imam Asy Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan,

“Aku pernah bersama dengan seorang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua hal. Pertama, dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu.”

Lanjutan dari perkataan Imam Asy Syafi’i di atas,

“Kemudian orang sufi tersebut menyebutkan perkataan lain: Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil).” (Al Jawabul Kafi, 109, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Waktu manusia adalah umurnya yang sebenarnya. Waktu tersebut adalah waktu yang dimanfaatkan untuk mendapatkan kehidupan yang abadi dan penuh kenikmatan dan terbebas dari kesempitan dan adzab yang pedih. Ketahuilah bahwa berlalunya waktu lebih cepat dari berjalannya awan (mendung). Barangsiapa yang waktunya hanya untuk ketaatan dan beribadah
pada Allah, maka itulah waktu dan umurnya yang sebenarnya. Selain itu tidak dinilai sebagai kehidupannya, namun hanya teranggap seperti kehidupan binatang ternak.”

Ingatlah … kematian lebih layak bagi orang yang menyia-nyiakan waktu.

Ibnul Qayyim mengatakan perkataan selanjutnya yang sangat menyentuh qolbu, “Jika waktu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuat lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat (hawa nafsu), berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan, maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya.” (Al Jawabul Kafi, 109)

Memanfaatkan Facebook untuk Dakwah

Inilah pemanfaatan yang paling baik yaitu facebook dimanfaatkan untuk dakwah. Betapa banyak orang yang senang dikirimi pesan nasehat agama yang dibaca di inbox, note atau melalui link mereka. Banyak yang sadar dan kembali kepada jalan kebenaran karena membaca nasehat-nasehat tersebut.

Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain apalagi dalam masalah agama yang dapat mendatangkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfaat bagi orang lain.” (Al Jaami’ Ash Shogir, no. 11608)

Dari Abu Mas’ud Al Anshori, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa memberi petunjuk pada orang lain, maka dia mendapat ganjaran sebagaimana ganjaran orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Jika Allah memberikan hidayah kepada seseorang melalui perantaraanmu maka itu lebih baik bagimu daripada mendapatkan unta merah (harta yang paling berharga orang Arab saat itu).” (HR. Bukhari dan Muslim)


Nasehat bagi Para Pengguna Facebook

Faedah dari perkataan Imam Asy Syafi’i:

“Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil)”.(Al Jawabul Kafi, 109)

Kami hanya bisa berdoa kepada Allah, semoga Allah memberikan taufik dan hidayah bagi orang yang membaca tulisan ini. Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk memanfaatkan waktu dengan baik, dalam hal-hal yang bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Rujukan:

Al Jawabul Kafi, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah
Al Qowa’id wal Ushul Al Jaami’ah, Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Darul Wathon Lin Nasyr
Jam’ul Mahshul fi Syarhi Risalah Ibni Sya’di fil Ushul, Abdullah bin Sholeh Al Fauzan, Dar

Al Muslim
Risalah Lathifah, Abdurrahman bin Nashir As Sa’di
oleh : Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal
baca seterusnya ....

Selasa, 26 Januari 2010

Ancaman Bahaya INFORMASI

Dewasa ini banyak tersebar media informasi yang tidak bertanggung jawab, seperti brosur, majalah, koran, radio dan televisi. Mereka sangat gencar menyuguhkan gambar-gambar wanita yang suka pamer perhiasan, bergaul bebas dan buka-bukaan. Haruskah muslimah ikut menjadi korban ?

Memang demikianlah fenomena yang kita saksikan. Kebanyakan remaja, khususnya muslimah termakan oleh berbagai bujuk rayu yang disajikan oleh media-media tersebut. Kalau kita tengok aktivitas para remaja, diantara mereka ada yang betah duduk berjam-jam demi menghabiskan sebuah novel percintaan. Atau diantara mereka ada yang sibuk mengejar gosip-gosip terbaru tentang artis idolanya. Ada juga yang suka menanti koran harian atau majalah untuk melihat ramalan bintang yang katanya bisa meramal nasib seseorang, baik atau buruk. Subhanallah. Bahkan ada yang kecanduan koran atau buku-buku yang berbahaya seperti filsafat dan ilmu kalam. Diantaranya juga ada orang yang betah nongkrong di depan layar televisi, asyik menikmati racun-racun yang ditebarkan oleh tayangan tersebut.

Bahaya yang Mengancam

Bila keadaan remaja muslim atau muslimah seperti ini, maka dapat kita bayangkan dan kita lihat sendiri bahaya yang terjadi. Kenyataan yang dapat kita saksikan adalah kecenderungan mereka untuk mengangkat tokoh idola seperti artis penyanyi atau bintang film. Akibatnya gaya hidup sang idolapun tercermin dalam gaya hidupnya, seperti pergaulan bebas, pakaian terbuka, hura-hura, dan pamer perhiasan. Dan akibat dari pergaulan bebas adalah perzinaan, selanjutnya akan diikuti oleh kerusakan-kerusakan yang lain. Trend mencari popularitaspun ikut merasuki pemikiran sang remaja, akhirnya mereka berlomba-lomba untuk menjadi pemenang cover girl atau cover boy (gambar sampul depan majalah). Menurutnya suatu kebanggaan bila wajahnya jadi bahan tontonan dan pujian. Subhanallah !

Disamping bahaya tersebut, berapa banyak mereka harus menghabiskan waktu dengan sia-sia, sementara itu banyak pula kewajiban-kewajiban yang terbengkalai. Sempatkah mereka memikirkan ibadahnya, padahal mereka mengaku beragama Islam ?!

Sholeh bin Muqbil Al-Ushaimi mengatakan bahwa kecintaan kepada koran dan majalah dapat menghalangi seseorang untuk melakukan kebaikan. Bila ia berpikir menghafal Al-Qur'an atau membaca kitab, ia tidak memiliki waktu. Kecintaannya membaca koran atau majalah menyita semua waktunya untuk membaca yang lebih bermanfaat. Bahkan hingga ada yang kuat membaca tiga ratus halaman majalah dan koran setiap harinya, tapi tidak mampu membaca satu ayat saja dari Al-Qur'an, apalagi membaca kitab atau risalah kecil.

Demikian sebagian fenomena yang kita lihat, Al-Qur'an seolah-olah jadi barang antik yang dimusiumkan, disimpan ditempat yang paling indah tapi hanya jadi pajangan. Akhirnya kebodohan yang muncul kepermukaan. Subhanallah !

Kewajiban yang Terlalaikan

Para remaja muslim dan muslimah memang harus menyadari akan bahaya yang mengancam tersebut. Bila tidak, ia akan terus terseret dalam kebodohan, kegelapan, dan dapat membawa pada kebinasaan di dunia dan akhirat. Kewajiban yang sering dilalaikan oleh remaja muslim dan muslimah adalah menuntut ilmu syar'i. Kebanyakan mereka phobi bila mendengar kata "agama" penuh aturan ini dan itu. Hal ini karena mereka lebih senang hidup ”semau gue" tanpa ikatan apapun. Jelas ini adalah pikiran yang harus diluruskan, karena dengan tuntunan syariat Islam, seseorang dapat selamat dunia dan akhiratnya.

Ketahuilah wahai para remaja bahwa Islam telah menetapkan tuntunan hidup manusia dalam Qur'an dan Sunnah Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam.

Bila kita berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam, sebagaimana yang dipakai oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam dan para shahabatnya maka kita tidak akan tersesat. Ini sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam:

"Aku tinggalkan untuk kalian, yang jika kalian berpegang teguh dengannya, kalian tidak akan sesat yaitu Kitabullah dan Sunnahku ". (HR. Malik dan Hakim)

Setiap diri kita tentu mendambakan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Untuk itu kita harus menyadari bahwa segala kesenangan dunia yang melalaikan hanyalah fatamorgana, itulah kesenangan yang memperdayakan. Allah Ta'ala berfirman :

"Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan". (QS. Ali Imron:185)

Sudah saatnya kita semua mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan akhirat. Diantaranya adalah dengan mempelajari ilmu dien ini. Karena dengan ilmulah seseorang dapat mengetahui mana al-haq dan mana al-batil. Dan hanya orang-orang yang berilmulah yang mengetahui bahwa apa yang datang dari Allah itulah al-haq, sebagaiman firman-Nya :

"Dan orang-orang yang diberi ilmu berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji ". (QS. Saba: 6).

Islam juga telah mewajibkan setiap muslim atau muslimah yang mukallaf (aqil dan baligh) untuk menuntut ilmu dien, sebagaimana hadits dari Anas bin Malik, Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam bersabda:

Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim ".(HR. An-Nasa'i, hadits Hasan)

Dengan ilmu seseorang akan berjalan diatas jalan yang terang. Ia akan mengetahui bagaimana ia harus beribadah kepada Allah, bagaimana syariat Islam, apa yang halal dan yang haram. Dengan ilmu pula dapat tersinari hati seseorang dengan cahaya keimanan, karena ilmu adalah obat kebodohan, cahaya yang menyingkap kegelapan hati dan menghasilkan rasa takut pada Allah. Sebagaimana firman Allah :

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu ". (QS. Faathir : 28)

Setelah kita mengetahui betapa pentingmya ilmu syar'i, maka haruskah kita terus menerus tenggelam dalam bacaan-bacaan atau tontonan sia-sia yang hanya menghabiskan waktu saja ?!. Kini, kita tinggalkan perbuatan sia-sia dan kita mulai raih manfaat dengan mengkaji Al-Qur'an, hadits-hadits Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam, kitab-kitab para ulama, hadir di majelis-majelis ilmu, atau mendengarkan kaset-kaset ceramah yang membimbing kita pada jalan yang lurus sebagaimana yang ditempuh oleh salafus sholeh. Jelas ini baik untuk kita dan tidak akan membuang-buang waktu !


Perhatikanlah!!!

Bila muslimah terus-menerus ikut-ikutan menjadi korban berbagai media informasi tersebut, maka segala kerusakan yang kini terjadi akan terus terjadi atau bahkan akan bertambah besar.

Sebagian besar produk yang diperdagangkan dalam berbagai media tersebut menggunakan jasa wanita sebagai pelaris. Gambar-gambar wanita yang terbuka auratnya dan memamerkan kecantikan memenuhi lembaran-lembaran majalah atau koran. Subhanallah, sampai kapan akan kau jual dirimu wahai wanita.

Kini kita buka hati untuk memperhatikan apa yang disabdakan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam. Dari Usamah bin Zaid , beliau bersabda :

"Tiada kutinggalkan sesudahku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi lelaki dari fitnah perempuan " (Muttafaq'alaih).

Ingatlah hal ini bahwa fitnah yang paling besar bagi laki-laki adalah wanita. Wahai para wanita yang menjual dirinya, yang tenggelam dalam dunianya. Coba tanya pada dirimu, sudahkah engkau dapatkan ketenangan dengan apa yang engkau lakukan ? Hanya dengan tumpukan rupiah dan popularitas, sudahkah dirimu bahagia ? Bila mau jujur, tentu hati kecilmu menyatakan tidak, sebab dunia telah kau letakkan dihatimu, sehingga engkau tidak pernah puas dengan apa yang sudah kau peroleh. Kalaupun engkau dapatkan kesenangan, itu hanyalah kesenangan dunia yang semu, yang akan hilang seiring menghilangnya ruh dari badan. Anas Radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam bersabda:

"Yang mengikuti mayit itu tiga : keluarga, harta kekayaan, dan amal perbuatannya. Maka kembali yang dua yaitu keluarga dan kekayaan hartanya dan tinggal satu yang tetap yaitu amal perbuatannya". (Muttafaq'alaih)

Kini, waspadalah terhadap serangan media informasi tersebut, karena mereka akan merusak dirimu, menyibukkan dirimu dengan amalan sia¬-sia, bahkan menjerumuskanmu pada perbuatan yang Allah haramkan.

Hendaklah kita takut pada Allah karena wanita mempunyai peluang lebih besar untuk menjadi penghuni neraka. Ibnu Abbas dan Imron bin Hushain Radhiyallahu ‘anhum berkata Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam telah bersabda:

"Aku melihat ke surga, maka aku melihat kebanyakan penghuninya orang-orang fakir, dan aku melihat ke neraka, maka aku melihat kebanyakan penghuninya wanita ". (Muttafaq'alaih)

Demikianlah wahai muslimah, sebelum ruh sampai ditenggorokan, pintu taubat masih terbuka untuk kita dan belum ada kata terlambat untuk mulai memperbaiki diri Oleh karena itu kita harus segera mempersiapkan hidup kita untuk akhirat dan tidak terus menerus tenggelam dalam kehidupan yang fana ini. Allahu a'lam.

oleh : Abu Anisah Al-Humairah
Penulis : Ukhtukunna fillah, Ummu Abdillah binti Mursyid
Sumber : Risalah Dakwah Al Atsari, Cileungsi Edisi 13/1420 H Th. 2
URL -> http://darussalaf.or.id/stories.php?id=199

baca seterusnya ....

Minggu, 24 Januari 2010

Membuka Aib


Kita sering menyaksikan ada sekelompok ibu-ibu yang berkumpul, lalu 'nyerempet-nyerempet' bercerita tentang hal-hal yang amat sensitif dan pribadi dari rahasia rumah tangganya, seperti membeberkan masalah hubungan seksualnya dengan sang suami tanpa sedikitpun rasa malu apalagi canggung. Atau membeberkan 'aib sang suami yang tidak boleh diketahui orang lain. Demikian pula sebaliknya, terkadang ada sekelompok bapak-bapak yang membeberkan hal seperti itu.

Apakah hal seperti ini dibolehkan? atau adakah kondisi yang membolehkannya?


Dari Abu Sa'id al-Khudriy, dia berkata, Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukanna di Hari Kiamat, adalah seorang laki-laki (suami) yang bercampur (bersetubuh) dengan isterinya, kemudian membeberkan rahasia (isteri)-nya tersebut." (HR.Muslim)
Al-Hirawiy, al-Kalbiy dan selain keduanya berkata, maknanya adalah perbuatan seorang laki-laki (suami) menyendiri (berduaan) dengan isterinya sekalipun tidak menyetubuhinya. Ibn 'Abbas, Mujahid dan as-Suddiy berkata, maknanya adalah jima' (bersetubuh).

Ada beberapa poin penting yang dapat dipetik dari hadits diatas, diantaranya:
  1. Masing-masing dari kedua pasangan suami-isteri memiliki rahasia yang berkenaan dengan hubungan seksual. Rahasia ini biasanya berupa masalah 'pemanasan' yang terjadi antara keduanya ketika akan memulai hubungan seksual atau berkenaan dengan 'aib yang ada pada anggota-anggota badan yang terkait dengan hubungan seksual. Hal ini semua merupakan hal yang paling rahasia diantara keduanya dan keduanya tentu tidak akan menyukai seorangpun mengetahuinya.
  2. Oleh karena itu, Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam memberikan label sebagai manusia yang paling jelek di sisi Allah dan paling rendah martabatnya terhadap salah seorang dari kedua pasangan suami-isteri yang mengkhianati amanah yang seharusnya dipegangnya. Yaitu tindakan membeberkan kepada orang-orang hubungan seksual yang terjadi antara keduanya atau membeberkan a'ib dari salah seorang diantara mereka.
  3. Hadits diatas menunjukkan hukum HARAM terhadap tindakan membeberkan rahasia suami-isteri yang amat khusus, yaitu hubungan seksual yang terjadi diantara keduanya sebab orang yang membeberkannya adalah tipe manusia yang paling jelek di sisi Allah.
  4. Islam menganggap hubungan seksual antara suami-isteri sebagai hal yang terhormat dan memiliki tempatnya tersendiri. Oleh karena itu, wajib menjaganya dan hendaknya salah seorang diantara keduanya tidak melampaui batas terhadap hal tersebut dengan membeberkan rahasia salah seorang diantara mereka karena masing-masing sudah saling membebankan amanah agar menjaganya.
  5. Dari sisi yang lain, 'pemanasan' antara suami-isteri ketika akan melakukan hubungan badan merupakan sesuatu yang bebas dilakukan karena hal itu dapat membuat masing-masing saling merespon dan dapat membangkitkan gairah. Namun bilamana salah seorang dari keduanya mengetahui bahwa rahasia-rahasia tersebut akan disebarluaskan dan mengapung di hadapan orang sehingga menjadi ajang ejekan atau kecaman, maka sebaiknya menahan hal itu dan merahasiakannya. Akibat dari hal seperti ini (tidak ada rasa saling percaya antara satu dengan yang lain karena takut dibocorkan rahasianya), jadilah hubungan seksual tersebut dingin dan kurang bergairah bahkan bisa berujung kepada kegagalan sebuah rumah tangga atau kegagalan di dalam menyelesaikan hubungan seksual tersebut.
  6. Para ulama berkata, "Hanya sekedar menyinggung perihal jima' hukumnya makruh bila tidak ada keperluannya dan dibolehkan bila ada perlunya seperti si suami menyebutkan isterinya sudah berpaling darinya atau sang isteri mengklaim bahwa si suami tidak mampu melakukan hubungan seksual, dan semisalnya."
Ada beberapa kondisi yang dikecualikan di dalam menyimpan rahasia tersebut, yaitu bilamana menyimpan rahasia tersebut akan berakibat fatal dan berbahaya bagi orang yang bersangkutan melebihi bahaya bilamana hal itu dibeberkan. Atau terdapat mashlahat yang lebih kuat di dalam membeberkannya ketimbang bahaya menyimpannya.

Dua kondisi ini adalah:

Pertama, Kondisi wajib dibeberkan. Yaitu bertolak dari kaidah "Melakukan salah satu yang paling ringan dari dua bahaya sehingga dapat menghindarkan yang paling berat bahayanya dari keduanya" dan kaidah "Merealisasikan mashlahat umum yang konsekuensinya harus melakukan bahaya yang berskala khusus guna mencegah adanya bahaya yang berskala umum bila memang menjadi kemestian mencegahnya"

Kondisi ini ada dua macam:
a. Mencegah suatu kerusakan terhadap masyarakat
b. Mencegah suatu kerusakan terhadap individu

Kedua, Kondisi boleh dibeberkan, karena:
a. Mengandung mashlahat bagi masyarakat
b. Dapat mencegah kerusakan yang berskala umum

Di dalam kondisi-kondisi tersebut, wajib berkomitmen dengan prinsip-prinsip syari'at dan prioritasnya dari sisi menjaga dien, jiwa, akal, harta dan keturunan.

Pengecualian-pengecualian terkait dengan kondisi wajib atau boleh dibeberkan tersebut harus dibuat secara tertulis dan legal di dalam kode etik menjalankan profesi terkait, baik kedokteran ataupun lainnya secara jelas dan transparan serta rinci. Wallahu a'lam.

oleh :Rohimin al Asror
Sumber: Kitab Tawdlîh al-Ahkâm Min Bulûgh al-Marâm karya
Syaikh 'Abdullah al-Bassam, Jld. IV, h.449-451


baca seterusnya ....

Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah [3]

Nama-nama Al-Fiqotun Naajiyah dan Artinya

Setelah kita mengetahui bahwa kelompok ini adalah golongan yang selamat dari kesesatan, maka tibalah giliran bagi kita untuk mengetahui pula nama-nama beserta ciri-cirinya agar kita dapat mengikutinya. Sebenarnyalah kelompok ini memiliki nama-nama agung yang membedakannya dari kelompok-kelompok lain. Dan diantara nama-namanya adalah : Al-Firqotun Najiyah (golongan yang selamat) ; Ath-Thooifatul Manshuroh (golongan yang ditolong) ; dan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, yang artinya adalah sebagai berikut.

  1. Bahwasanya kelompok ini adalah kelompok yang selamat dari api neraka sebagaimana telah dikecualikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebutkan kelompok-kelompok yang ada pada umatnya dengan sabdanya : “Seluruhnya di atas neraka kecuali satu ; yakni yang tidak masuk kedalam neraka”.(Telah terdahulu keterangannya)
  2. Bahwasanya kelompok ini adalah kelompok yang tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah dan apa-apa yang dipegang oleh As-Saabiqunal Awwalun (para pendahulu yang pertama) baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar, sebagaimana di sabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Mereka itu adalah siapa-siapa yang berjalan diatas apa-apa yang aku dan sahabatku lakukan hari ini”.(Telah terdahulu keterangannya)
  3. Bahwasanya pemeluk kelompok ini adalah mereka yang menganut paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka itu bisa dibedakan dari kelompok lainnya pada dua hal penting ; pertama. berpegang teguhnya mereka terhadap As-Sunnah sehingga mereka di sebut sebagai pemeluk sunnah (Ahlus Sunnah). Berbeda dengan kelompok-kelompok lain karena mereka berpegang teguh dengan pendapat-pendapatnya, hawa nafsunya dan perkataan para pemimpinnya. Oleh karena itu, kelompok-kelompok tersebut tidak dinisbatkan kepada Sunnah, akan tetapi dinisbatkan kepada bid’ah-bid’ah dan kesesatan-kesesatan yang ada pada kelompok itu sendiri, seperti Al-Qadariyah dan Al-Murji’ah ; atau dinisbatkan kepada para imam-nya seperti Al-Jahmiyah ; atau dinisbatkan pada pekerjaan-pekerjaannya yang kotor seperti Ar-Rafidhah dan Al-Khawarij. Adapun perbedaan yang kedua adalah bahwasanya mereka itu Ahlul Jama’ah karena kesepakatan mereka untuk berpegang teguh dengan Al-Haq dan jauhnya mereka dari perpecahan. Berbeda dengan kelompok-kelompok lain, mereka tidak bersepakat untuk berpegang teguh dengan Al-Haq akan tetapi mereka itu hanya mengikuti hawa nafsu mereka, maka tidak ada kebenaran pada mereka yang mampu menyatukan mereka.
  4. Bahwasanya kelompok ini adalah golongan yang ditolong Allah sampai hari kiamat. Karena gigihnya mereka dalam menolong dinullah maka Allah menolong mereka, seperti difirmankan Allah : “Jika kamu menolong Allah niscaya Allah akan menolong mereka”. (Muhammad : 7) . Oleh karena itu pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : “Tidaklah yang menghina dan menentang mereka itu akan mampu memadlorotkan (membahayakan) mereka sampai datang keputusan Allah Tabaraka wa Ta’ala sedang mereka itu tetap dalam keadaan demikian”. (Telah terdahulu keterangannya).

Sesungguhnynya Ahlus Sunnah wal Jama’ah berjalan di atas prinsip-prinsip yang jelas dan kokoh baik dalam itiqad, amal maupun perilakunya. Seluruh prinsip-prinsip yang agung ini bersumber pada kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya dan apa-apa yang dipegang oleh para pendahulu umat dari kalangan sahabat, tabi’in dan para pengikut mereka yang setia.
baca seterusnya ....

Kamis, 21 Januari 2010

Berhias dengan Al Waqar

Al-Waqar adalah sebagaimana didefinisikan oleh Al-Jahizh : “Al-Waqar adalah menahan diri dari berbicara secara berlebihan, kesia-siaan, banyak menunjuk dan bergerak dalam perkara yang tidak membutuhkan gerakan ; sedikit amarahnya, tidak banyak bertanya, menahan diri dari menjawab, menjaga diri dari ketergesaan, dan bersegera dalam seluruh perkara.” [Tahdzibul Akhlaq ; hal.22]

Rosulullah menyukai umatnya berhias dengan akhlaq ketenangan dan al-waqar, bahkan ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju sholat. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam, “Jika kalian telah mendengar iqomat, maka berjalanlah menuju sholat. Dan hendaklah kalian bersikap sakinah dan waqar. Janganlah kalian tergesa-gesa. Apa yang kalian dapatkan maka sholatlah, dan apa yang terluput dari kalian sempurnakanlah.” HR. Bukhari dan Muslim

Imam An-Nawawi berkata sebagaimana disebutkan dalam Al-Fath (2/139) : “Perbedaan antara sakinah dan waqar, bahwa sakinah ialah pelan-pelan/tidak tergesa-gesa dalam gerakan dan menjauhi kesia-siaan, sedangkan waqar ialah dalam penampilan, seperti menundukkan pandangan, menjaga suara, dan tidak menoleh.”

Rosulullah juga mengabarkan bahwasanya tiada satu nabi pun yang diutus oleh Allah melainkan pasti menggembala kambing. Hal itu karena akibat yang diperoleh dengan menggembala kambing berupa kasih sayang, simpati, dan memperoleh sakinah dan waqar.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasanya Rosulullah bersabda , “Kecongkakan dan kesombongan berada pada pemilik onta, sedangkan as-sakinah dan al-waqar berada pada pemilik kambing.” HR. Bukhari dan ini adalah lafadznya Muslim

Hal-hal yang bisa membantu dalam meraih al-waqar diantaranya :

Ilmu dan mengamalkannya
Al-Hasan rahimahullah berkata : “Dahulu seseorang mencari ilmu, lalu tak lama kemudian hal itu terlihat dalam khusyu’nya, hadyu-nya, lisannya, penglihatannya dan kebajikannya.” [Syu'abul Iman 8/427]

Mengagungkan Allah ‘azza wa jalla
Barangsiapa menginginkan al-waqar, maka dia harus mengagungkan Alloh dengan sebenar-benarnya. Barangsiapa yang tidak mengagungkan Allah dalam kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya dengan mengilmuinya dan beradab dengan adab keduanya, maka sesungguhnya Allah tidak akan melemparkan waqar maupun kewibawaan untuknya ke dalam hati manusia. Bahkan waqar dan kewibawaannya akan gugur dari hati mereka.

Malu
Waqar merupakan salah satu buah dari rasa malu. Diriwayatkan dari Busyair bin Ka’b, dia berkata : “Tertulis didalam hikmah, ‘Sesungguhnya diantara rasa malu adalah waqar, dan sesungguhnya diantara rasa malu adalah sakinah’.” HR. Bukhari (6117)

Tetap Diam

Tetap diam kecuali dari kebenaran untuk kamu terangkan, atau kebatilan untuk kamu bantah, atau sesuatu yang memang engkau punya kepentingan terhadapnya.Sebagian orang yang fasih mengatakan : “Tetaplah diam, karena hal itu akan membuatmu memperoleh ketulusan cinta, memberimu rasa aman dari akibat yang jelek, memakaikanmu pakaian al-waqar, dan mencukupkanmu dari beban meminta maaf.” [Adabud Dunya wad Din hal.275]

Itulah beberapa perkara yang bisa membantu dalam meraih al-waqar. Pantaslah seorang muslim melatih dirinya dengan perkara-perkara tsb sehingga menjadi tabiat dan karakternya. Diantara orang yang padanya terkumpul sifat-sifat tsb secara keseluruhan adalah Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah, hingga dikatakan tentangnya : Dia tidak menjawab, namun tidak ada yang mengulangi (permintaan untuk menjawab) karena kewibawaan dan para penanya dalam keadaan menundukkan dagu. Cahaya kewibawaan dan kemuliaan kekuatan taqwa maka diapun disegani padahal dia bukanlah raja.

oleh : Aisyah Ummu 'Abdillah Al-Malawiyyah
-diringkas dari kitab At-Tajj al Mafquud karya Faishal bin Abduh Qa’id Al-Hasyidi ; edisi bahasa indonesia “Mahkota yang Hilang”

baca seterusnya ....

Pintu-Pintu Masuknya Setan

Hati manusia bagaikan benteng sedangkan syetan adalah musuh yang senantiasa mengintai untuk menguasai benteng tersebut. Kita tidak bisa menjaga benteng kalau tidak melindungi atau menjaga/menutup pintu-pintu masuknya syetan ke dalam hati. Kalau kita ingin memiliki kemampuan untuk menjaga pintu agar tidak diserbu syetan, kita harus mengetahui pintu-pintu mana saja yang dijadikan syetan sebagai jalan untuk menguasai benteng tsb.

Melindungi hati dari gangguan syetan adalah wajib oleh karena itu mengetahui pintu masuknya syetan itu merupakan syarat untuk melindungi hati kita maka kita diwajibkan untuk mengetahui pintu-pintu mana saja yang dijadikan jalan untuk menguasi hati manusia.

Pintu tempat masuknya syetan adalah semua sifat kemanusiaan manusia yang tidak baik. Berarti pintu yang akan dimasuki syetan sebenarnya sangat banyak, Namun kita akan membahas pintu-pintu utama yang dijadikan prioritas oleh syetan untuk masuk menguasai manusia. Di antara pintu-pintu besar yang akan dimasuki syetan itu adalah:

Rata Penuh Marah
Marah adalah kalahnya tentara akal oleh tentara syetan. Bila manusia marah maka syetan bisa mempermainkannya seperti anak-anak mempermainkan kelereng atau bola. Orang marah adalah orang yang sangat lemah di hadapan syetan.

Hasad
Manusia bila hasud dan tamak menginginkan sesuatu dari orang lain maka ia akan menjadi buta. Rasulullah bersabda:" Cintamu terhadap sesuatu bisa menjadikanmu buta dan tuli" Mata yang bisa mengenali pintu masuknya syetan akan menjadi buta bila ditutupi oleh sifat hasad dan ketamakan sehingga tidak melihat. Saat itulah syetan mendapatkan kesempatan untuk masuk ke hati manusia sehingga orang itu mengejar untuk menuruti syahwatnya walaupun jahat.

Perut kenyang
Rasa kenyang menguatkan syahwat yang menjadi senjata syetan. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Iblis pernah menampakkan diri di hadapan Nabi Yahya bin Zakariyya a.s. Beliau melihat pada syetan beberapa belenggu dan gantungan pemberat untuk segala sesuatu seraya bertanya. Wahai iblis belenggu dan pemberat apa ini? Syetan menjawab: Ini adalah syahwat yang aku gunakan untuk menggoda anak cucu Adam.Yahya bertanya: Apa hubungannya pemberat ini dengan manusia ?
Syaitan menjawab: Bila kamu kenyang maka aku beri pemberat sehingga engkau enggan untuk sholat dan dzikir. Yahya bertanya lagi: Apa lainnya? Tidak ada! Jawab syetan. Kemudian Nabi Yahya berkata: Demi Allah aku tidak akan mengenyangkan perutku dengan makanan selamanya. Iblis berkata, Demi Allah saya tidak akan memberi nasehat pada orang muslim selamanya.

Kebanyakan makan mengakibatkan munculnya enam hal tercela:
  • Menghilangkan rasa takut kepada Allah dari hatinya.
  • Menghilangkan rasa kasih sayang kepada makhluk lain karena ia mengira bahwa semua makhluk sama kenyangnya dengan dirinya.
  • Mengganggu ketaatan kepada Allah
  • Bila mendengarkan ucapan hikmah ia tidak mendapatkan kelembutan
  • Bila ia bicara tentang ilmu maka pembicaraannya tidak bisa menembus hati manusia.
  • Akan terkena banyak penyakit jasmani dan rohani
Cinta perhiasan dan perabotan rumah tangga
Bila syetan melihat hati orang yang sangat mencintai perhiasan dan perabotan rumah tangga maka iblis bertelur dan beranak dan menggodanya untuk terus berusaha melengkapi dan membaguskan semua perabotan rumahnya, menghiasi temboknya, langit-langitnya dst. Akibatnya umurnya habis disibukkan dengan perabotan rumah tangga dan melupakan dzikir kepada Allah.

Tergesa-gesa dan tidak melakukan re-cek
Rasulullah pernah bersabda: Tergesa-gesa termasuk perbuatan syetan dan hati-hati adalah dari Allah SWT. Allah berfirman: "Manusia diciptakan tergesa-gesa" dalam ayat lain dditegaskan: "Sesungguhnya manusia itu sangat tergesa-gesa. Mengapa kita edilarang tergesa-gesa? Semua perbuatan harus dilakukan dengan pengetahuan dan penglihatan mata hati. Penglihatan hata hati membutuhkan perenungan dan ketenangan. Sedangkan tergesa-gesa menghalangi itu semua. Ketika manusia tergesa-gesa dalam melakukan kewajiban maka syetan menebarkan kejahatannya dalam diri manusia tanpa disadari.

Mencintai harta
Kecintaan terhadap uang dan semua bentuk harta akan menjadi alat hebat bagi syetan. Bila orang memiliki kecintaan kuat terhadap harta maka hatinya akan kosong. Kalau dia mendapatkan uang sebanyak satu juta di jalan maka akan muncul dari harta itu sepuluh syahwat dan setiap syahwat membutuhkan satu juta. Demikianlah orang yang punya harta akan merasa kurang dan menginginkan tambahan lebih banyak lagi.

Ta'assub bermadzhab dan meremehkan kelompok lain
Orang yang ta'assub dan memiliki anggapan bahwa kelompok lain salah sangat berbahaya. Orang yang demikian akan banyak mencaci maki orang lain.
Meremehkan dan mencaci maki termasuk sifat binatang buas. Bila syetan menghiasi pada manusia bahwa taassub itu seakan-akan baik dan hak dalam diri orang itu maka ia semakin senang untuk menyalahkan orang lain dan menjelekkannya.

Kikir dan takut miskin
Sifat kikir ini mencegah seseorang untuk memberikan infaq atau sedekah dan selalu menyeru untuk menumpuk harta kekayaan dan siksa yang pedih adalah janji orang yang menumpuk harta kekayaan tanpa memberikan haknya kepada fakir miskin. Khaitsamah bin Abdur Rahman pernah berkata: Sesungguhnya syaitan berkata: Anak cucu Adam tidak akan mengalahkanku dalama tiga hal perintahku: Aku perintahkan untuk mengambil harta dengan tanpa hak, menginfakkannya dengan tanpa hak dan menghalanginya dar hak kewajibannya (zakat).
Sufyan berkata: Syetan tidak mempunyai senjata sehebat senjata rasa takutnya manusia dari kemiskinan. Apabila ia menerima sifat ini maka ia mengambil harta tanpa hak dan menghalanginya dari kewajiban zakatnya.

Memikirkan Dzat Allah
Orang yang memikirkan dzat Allah tidak akan sampai kepada apa yang diinginkannya ia akan tersesat karena akal manusia tidak akan sampai kesana. Ketika memikirkan dzat Allah ia akan terpeleset pada kesyirikan.

Buruk-sangka terhadap orang Islam
Sifat ini mengakibatkan kebencian dan perpecahan persaudaraan umat Islam sehingga akan menghancurkan umat Islam.

oleh : a b i


baca seterusnya ....

Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah [2]


Al Firqotun Najiyah adalah Ahlussunnah wal Jama'ah

Pada masa kepemimpinan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kaum muslimin itu adalah umat yang satu sebagaimana di firmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Sesungguhnya kalian adalah umat yang satu dan Aku (Allah) adalah Rab kalian, maka beribadahlah kepada-Ku”. (Al-Anbiyaa : 92).

Maka kemudian sudah beberapa kali kaum Yahudi dan munafiqun berusaha memecah belah kaum muslimin pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun mereka belum pernah berhasil. Telah berkata kaum munafiq.

“Janganlah kamu berinfaq kepada orang-orang yang berada di sisi Rasulullah, supaya mereka bubar”.

Yang kemudian dibantah langsung oleh Allah (pada lanjutan ayat yang sama) :

“Padahal milik Allah-lah perbandaharaan langit dan bumi, akan tetapi orang-orang munafiq itu tidak memahami”. (Al-Munafiqun : 7).

Demikian pula, kaum Yahudi-pun berusaha memecah belah dan memurtadkan mereka dari Ad-Din mereka.

“Segolongan (lain) dari Ahli Kitab telah berkata (kepada sesamanya) : (pura-pura) berimanlah kamu kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (para sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah pada akhirnya, mudah-mudahan (dengan cara demikian) mereka (kaum muslimin) kembali kepada kekafiran”. (Ali Imran : 72).

Walaupun demikian, makar yang seperti itu tidak pernah berhasil karena Allah menelanjangi dan menghinakan (usaha) mereka.

Kemudian mereka berusaha untuk kedua kalinya mereka berusaha kembali memecah belah kesatuan kaum muslimin (Muhajirin dan Anshar) dengan mengibas-ngibas kaum Anshar tentang permusuhan diantara mereka sebelum datangnya Islam dan perang sya’ir diantara mereka. Allah membongkar makar tersebut dalam firman-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, jika kalian mengikuti segolongan orang-orang yang diberi Al-Kitab niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi orang kafir sesudah kalian beriman”.(Ali Imran : 100).

Sampai pada firman Allah,

“Pada hari yang diwaktu itu ada wajah-wajah berseri-seri dan muram ….” (Ali-Imran : 106).

Maka kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kaum Anshar : menasehati dan mengingatkan mereka ni’mat Islam dan bersatunya merekapun melalui Islam, sehingga pada akhirnya mereka saling bersalaman dan berpelukan kembali setelah hampir terjadi perpecahan. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir I/397 dan Asbabun Nuzul Al-Wahidy hal. 149-150) . Dengan demikian gagallah pula makar Yahudi dan tetaplah kaum muslimin berada dalam persatuan. Allah memang memerintahkan mereka untuk bersatu di atas Al-Haq dan melarang perselisihan dan perpecahan sebagaimana firman-Nya.

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang berpecah belah dan beselisih sesudah datangnya keterangan yang jelas ……”.(Ali-Imran : 105).

Dan firman-Nya pula,

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu berpecah-belah ….”.(Ali-Imran : 103).

Dan sesungguhnya Allah telah mensyariatkan persatuan kepada mereka dalam melaksanakan berbagai macam ibadah : seperti shalat, dalam shiyam, dalam menunaikan haji dan dalam mencari ilmu. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam-pun telah memerintahkan kaum muslimin ini agar bersatu dan melarang mereka dari perpecahan dan perselisihan. Bahkan beliau telah memberitahukan suatu berita yang berisi anjuran untuk bersatu dan larangan untuk berselisih, yakni berita tentang akan terjadinya perpecahan pada umat ini sebagaimana hal tersebut telah terjadi pada umat-umat sebelumnya ; sabdanya.

“Sesunguhnya barangsiapa yang masih hidup diantara kalian dia akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpegang teguhlah kalian dengan sunnah-Ku dan sunnah Khulafaa’rasiddin yang mendapat petunjuk setelah Aku”. (Dikeluarkan oleh Abu Dawud 5/4607 dan Tirmidzi 5/2676 dan Dia berkata hadits ini hasan shahih ; juga oleh Imam Ahmad 4/126-127 dan Ibnu Majah 1/43).

Dan sabdanya pula,

“Telah berpecah kaum Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan ; dan telah berpecah kaum Nashara menjadi tujuh puluh dua golongan ; sedang umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kami-pun bertanya, siapakah yang satu itu ya Rasulullah ..? ; beliau menjawab : yaitu barang-siapa yang berada pada apa-apa yang aku dan para sahabatku jalani hari ini”. (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi 5/2641 dan Al-Hakim di dalam Mustadraknya I/128-129, dan Imam Al-Ajury di dalam Asy-Syari’ah hal.16 dan Imam Ibnu Nashr Al-Mawarzy di dalam As-Sunnah hal 22-23 cetakan Yayasan Kutubus Tsaqofiyyah 1408, dan Imam Al-Lalikaai dalam Syar Ushul I’tiqaad Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah I nomor 145-147).

Sesungguhnya telah nyata apa-apa yang telah diberitakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berpecahlah umat ini pada akhir generasi sahabat walaupun perpecahan tersebut tidak berdampak besar pada kondisi umat semasa generasi yang dipuji oleh Rasulullah dalam sabdanya.

“Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian generasi yang datang sesudahnya, kemudian yang datang sesudahnya”. (Dikeluarkan oleh Bukhari 3/3650, 3651 dan Muslim 6/juz 16 hal 86-87 Syarah An-Nawawy).

Perawi hadits ini berkata : “saya tidak tahu apakah Rasulullah menyebut setelah generasinya dua atau tiga kali”.

Yang demikian tersebut bisa terjadi karena masih banyaknya ulama dari kalangan muhadditsin, mufassirin dan fuqaha. Mereka termasuk sebagai ulama tabi’in dan pengikut para tabi’in serta para imam yang empat dan murid-murid mereka. Juga disebabkan masih kuatnya daulah-dualah Islamiyah pada abad-abad tersebut, sehingga firqah-firqah menyimpang yang mulai ada pada waktu itu mengalami pukulan yang melumpuhkan baik dari segi hujjah maupun kekuatannya.

Setelah berlalunya abad-abad yang dipuji ini bercampurlah kaum muslimin dengan pemeluk beberapa agama-agama yang bertentangan. Diterjemahkannya kitab ilmu ajaran-ajaran kuffar dan para raja Islam-pun mengambil beberapa kaki tangan pemeluk ajaran kafir untuk dijadikan menteri dan penasihat kerajaan, maka semakin dahsyatlah perselisihan di kalangan umat dan bercampurlah berbagai ragam golongan dan ajaran. Begitupun madzhab-madzhab yang batilpun ikut bergabung dalam rangka merusak persatuan umat. Hal itu terus berlangsung hingga zaman kita sekarang dan sampai masa yang dikehendaki Allah. Walaupun demikian kita tetap bersyukur kepada Allah karena Al-Firqatun Najiyah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah masih tetap berada dalam keadaan berpegang teguh dengan ajaran Islam yang benar berjalan diatasnya, dan menyeru kepadanya ; bahkan akan tetap berada dalam keadaan demikian sebagaimana diberitakan dalam hadits Rasulullah tentang keabadiannya, keberlangsungannya dan ketegarannya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah demi langgenggnya Din ini dan tegaknya hujjah atas para penentangnya.

Sesungguhnya kelompok kecil yang diberkahi ini berada di atas apa-apa yang pernah ada semasa sahabat Radhiyallahu ‘anhum bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik dalam perkataan perbuatan maupun keyakinannya seperti yang disabdakan oleh beliau.

“Mereka yaitu barangsiapa yang berada pada apa-apa yang aku dan para sahabatku jalani hari ini” (Telah berlalu penjelasannya di atas -peny).

Sesungguhnya mereka itu adalah sisa-sisa yang baik dari orang-orang yang tentang mereka Allah telah berfirman.

“Maka mengapakah tidak ada dari umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan (shalih) yang melarang dari berbuat kerusakan di muka bumi kecuali sebagian kecil diantara orang-orang yang telah kami selamatkan diantara mereka, dan orang-orang yang dzolim hanya mementingkan kemewahan yang ada pada mereka ; dan mereka adalah orang-orang yang berdosa”. (Huud : 116).

Oleh : Syaikh Dr Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan
baca seterusnya ....

Kamis, 14 Januari 2010

Salman al Farisi


Jalan terjal dilalui Salman dalam meruntut jejak Tuhannya. Terpisah dari orang yang dicintai, dirampok, dan menjadi budak. Lalu turunlah rahmat Allah sebagai hadiah atas kesabarannya.
Salman al-Farisi adalah sahabat Rasul yang mahir mengatur strategi perang. Ia terkenal cerdas, seperti sahabat Nabi lain yang berasal dari Persia. Ini dibuktikan saat terjadi Perang Khandaq. Menghadapi pasukan musuh yang berkoalisi, umat Islam berhasil meraih kemenangan. Dua puluh empat ribu pasukan musuh dibuat porak-poranda. Berkat parit yang diusulkan Salman disertai pertolongan Allah yang mendatangkan angin topan. Musuh-musuh agama Allah itu pulang dengan tangan hampa. Hati mereka kecewa karena kalah. Sejak itu nama Salman makin bersinar di kalangan sahabat. Pemuda dengan rambut panjang dan tubuh kekar itu memiliki kecerdasan akal.

Salman berasal dari Isfahan, tepatnya sebuah tempat yang bernama Jai di Persia. Ia dibesarkan dari lingkungan keluarga berkecukupan. Seluruh keperluan hidupnya terpenuhi. Ia anak kesayangan orang tuanya. Bapaknya adalah tokoh berpengaruh dalam kabilahnya, yaitu sebuah masyarakat yang menyembah dan menjadikan api sebagai Tuhan alias Majusi atau Zoroaster. Salman termasuk penyembah api yang setia. Sebagian hidupnya ia sedekahkan bagi kemuliaan agama leluhur. Merelakan dan menyerahkan dirinya menjaga api untuk tetap menyala.
Sebagai orang kaya dan terhormat, orang tua Salman memiliki banyak tanah. Bahkan karena banyak lahan yang dimiliki, ayah Salman tidak mungkin memeriksa tanahnya satu per satu. Kerap ia meminta Salman melakukan pekerjaan mengontrol sawah dan perkebunan itu.
Suatu hari, dalam perjalanan menuju kebun, Salman melewati sebuah gereja yang padat dengan
jamaah. Mereka tengah khusyuk melakukan ibadah. Heran dan kagum tumbuh dalam hati Salman begitu menyaksikan cara sembahyang yang belum pernah dilihatnya. Cara beribadah lain yang membuat hati Salman penasaran. Ia mengikuti kemauan kakinya melangkah untuk masuk ke dalam gereja tersebut. Makin dalam ia melangkah ke dalam gereja, tiba-tiba hatinya berbisik, menyatakan, cara sembahyang yang dilihatnya jauh lebih baik dari cara masyarakatnya selama ini.
Sehari lamanya Salman memperhatikan prosesi ibadah di gereja itu hingga lupa akan tugas yang diberikan sang bapak. Ia bahkan lupa pulang ke rumah sehingga orang tuanya mengutus pesuruh untuk menjemput. Ketika kembali ke rumah gundah hatinya makin kuat terutama keraguan yang muncul dari lubuk hatinya setelah ia menyaksikan cara beribadah agama yang berasal dari Syuriah itu. Sesampainya di rumah, bukan keadaan kebun yang dilaporkan Salman kepada sang bapak. Ia malah bercerita tentang pengalaman yang dijumpainya di gereja. Mendiskusikan dengan bapaknya, bahkan memuji agama baru itu di depan orang tuanya sehingga tak tahan. Ia lantas merantai dan mengurung Salman di sebuah gudang.

Perlakuan yang diterima membuat Salman meyakini kebenaran agama Nasrani terutama setelah sang bapak berbuat kasar karena kalah dalam diskusi. Salman lantas mengirim berita kepada jemaah pemeluk agama dari Syuriah itu. Ia menyatakan, dirinya telah menyembah Allah, seperti mereka. Ia juga meminta agar memberitahukan kepadanya bila ada rombongan Nasrani dari Syuriah yang datang agar bisa turut serta dengan mereka bila hendak kembali ke Syuriah suatu hari nanti. Di luar dugaan, permintaan itu dipenuhi. Suatu hari datang kabar dari seorang pembantu Salman yang masih setia. Ia mengatakan, serombongan orang Syuriah akan kembali ke negara mereka. Berita itu sontak membuat hati Salman berbunga-bunga. Ia sangat gembira menerima berita itu. Angannya menerawang, membayangkan betapa ia bakal menjalani perjalanan yang menyenangkan. Dengan sekuat tenaga diputusnya rantai yang membelenggu. Ia mendobrak gudang tempat ia dipasung. Lantas melarikan diri ke Syuriah bersama rombongan yang hendak menuju ke negara asal agama Nasrani itu. Selama menempuh perjalanan, semua hal yang terkait dengan agama Nasrani ia tanyakan kepada rombongan, satu per satu, dengan perasaan yang bahagia.
Sampai di sana, Salman menanyakan orang yang ahli dan tekun menjalankan agama mereka. “Orang itu adalah uskup dan pemimpin gereja,” kata mereka memberi jawab. Salman lalu datang kepadanya dan menceritakan kisah yang sudah dijalani, lantas menyerahkan diri dan mengabdi kepada uskup, sang pemimpin agama itu. Setelah beberapa saat, Salman sadar akan perilaku buruk uskup itu. Meski sering berkhotbah, ia selalu menipu umatnya. Uskup itu mengumpulkan harta dengan alasan untuk amal buat dibagikan kepada orang miskin. Tetapi setelah harta itu terkumpul, sang uskup malah menyimpan untuk kepentingan diri sendiri. Hal itu terjadi berulang kali dan diketahui Salman secara pasti. Penipuan tersebut terjadi berkali-kali, terus-menerus, hingga sang uskup meninggal.
Sepeninggal uskup, masyarakat mengangkat pemimpin gereja yang baru. Ia orang yang baik dalam berperilaku. Saleh menjalankan perintah agama. Selalu tepat waktu melaksanakan peribadatan. Perilaku ini membuat Salman kagum. Secara pelan tumbuh rasa cinta dan keikhlasan membantu uskup itu mengembangkan agama Nasrani. Terutama karena yang dilakukan dan yang dikatakan uskup sama benar dan baiknya. Sehingga ia rela melayani kebutuhan uskup itu setiap hari dengan ikhlas. Bertahun-tahun Salman melayaninya hingga datang waktu uskup itu menjelang ajalnya.

Sebelum datang kematiannya, Salman menemuinya, “Ke mana sebaiknya saya pergi, untuk mengabdi sekaligus belajar agama kepada orang seperti Anda?” tanya Salman dengan suara parau. Uskup itu menjawab, “Aku tidak mengerti ke mana seharusnya kamu pergi, anakku. Tetapi sepengetahuanku, tidak ada orang yang berperilaku sepertiku, kecuali seorang yang hidup dan tinggal di Mosul.”
Salman akhirnya berangkat ke Mosul, wilayah Irak. Sesampainya di sana ia ceritakan kisah perjalanan hidupnya. Ia mengabdi kepada orang yang ditunjukkan uskup sebelumnya sampai datang saat ajal hendak menjemput orang itu. Sebelum uskup itu meninggal Salman telah bertanya, ke mana ia harus pergi sepeninggalnya nanti. Orang itu berkata agar Salman pergi ke Amurian di Byzantium. Sesampainya di sana, Salman segera menemui orang yang ditujunya. Hingga ia tinggal, mengabdi, sembari beternak lembu dan domba.
Ketika dia harus meninggalkan Byzantium karena ajal telah mendekati bapak angkatnya, Salman gundah. Ia tak tahu harus ke mana. Sampai akhirnya, ayah angkat itu pun berkata, “Hai anakku, aku tidak tahu siapa orang yang sejalan denganku sehingga aku tidak tahu ke mana kau harus pergi. Tetapi kau sudah dekat dengan masa di mana akan datang nabi pengikut Nabi Ibrahim. Ia akan hijrah ke tempat yang banyak ditumbuhi pohon kurma. Ikutilah dia. Karena dia mudah dikenali. Ia tidak makan sedekah, tetapi ia mau menerima hadiah. Di antara dua pundaknya terdapat tanda-tanda kenabian.”

Pada hari berikutnya, secara kebetulan lewat serombongan orang yang menuju ke Jariah Arab. “Aku berikan domba dan lembu ini pada kalian jika kalian mau membawaku ke negeri asal kalian,” kata Salman kepada pemimpin rombongan. Mereka setuju membawa Salman turut serta. Sehingga sampailah Salman di Wadi Al-Quro.

Tetapi hati Salman sedih. Ia merasa telah ditipu. Sebab, ternyata mereka telah menjual Salman kepada seorang Yahudi sebagai budak belian. Begitupun Salman masih berharap. Ia yakin, pesan yang disampaikan bapak angkat yang terakhir bakal menjadi kenyataan. Karena dia melihat banyak pohon kurma tumbuh di sekitarnya. Tetapi impian itu ternyata masih jauh dari kenyataan. Karena ia tetap tinggal di Wadi Al-Quro, bersama orang Yahudi yang membelinya. Setiap hari ia harus bekerja sebagai budak. Berbagai pekerjaan berat harus dia lakukan. Sekali saja membantah majikan, tangan, cambuk, atau caci maki, pasti akan diterimanya. Itu berjalan terus-menerus.

Seperti sudah digariskan, beberapa lama setelah itu, Salman dijual pemiliknya. Kali ini ia dibeli orang dari Bani Quraidhah yang tinggal di Medinah. Suatu hari, ketika dia sedang memetik kurma, datang sepupu tuannya sambil terbirit-birit. Ia mengabarkan, “Aku lihat dengan mataku sendiri, banyak orang berkerumun mengelilingi seorang lelaki yang datang dari Mekah dan mengaku sebagai nabi.” Secara tidak sadar tubuh Salman bergetar setelah mendengar berita itu. Ia bahkan nyaris terjatuh menimpa tuannya yang ada di bawah. Pada malam harinya, Salman segera mengumpulkan barang-barang yang ia punya. Lantas pergi ke Quba, pinggiran kota Yastrib, untuk menemui laki-laki yang disebut nabi itu.

“Saudara-saudara adalah pendatang. Saya yakin, Tuan-tuan memerlukan makanan. Terima dan makanlah sedekah saya ini,” kata Salman. Seseorang dari mereka lantas menerima makanan itu.
Lalu ia menyerahkan makanan sedekah itu kepada para sahabat. Sementara Nabi sendiri tidak ikut menikmatinya. Keesokan harinya Salman kembali menemui rombongan itu. “Saudaraku, semalam saya melihat Anda tidak mau makan sedekah yang aku berikan, terimalah ini makanan dariku sebagai hadiah buat Anda,” kata Salman dengan hati-hati. Tak lama berselang, orang yang semalam menerima itu kembali menerima bingkisan yang dibawa Salman. “Atas nama Allah makanlah hadiah ini,” kata sipenerima sembari ikut menikmati makanan yang diterimanya.

Pada hari yang lain Salman kembali datang. Dillihatnya, orang yang sudah dua kali menerima makanannya mengenakan dua lembar kain dipundak. Sembari membungkuk, Salman mengucap salam kepadanya. Tanpa dinyana, orang itu malah menyingkapkan kain penutup itu, sehingga terlihat tanda-tanda kenabian, seperti yang disampaikan pendeta Nasrani itu. Lutut Salman lantas bergetar hebat. Ia lantas semakin mendekat ke arah Rasulullah, menangis, seraya mencium tangannya. Menceritakan semua kisah dan kejadian yang telah dia alami. Seketika itu ia menyatakan diri sebagai pengikut Muhammad dan mengucapkan dua kalimah syahadat.
baca seterusnya ....